Rabu, 22 April 2026

Berita Aceh Tengah Hari Ini

Jejak Sejarah Kopi Gayo dan Mantra Sengkewe

Orang Gayo menyebut cara minum seperti itu dengan istilah “minum kupi olong” atau minum kopi daun. “Olong” dalam bahsa Indonesia berarti daun.

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Mawaddatul Husna
kolase TribunGayo.com
KOPI GAYO - Foto ilustrasi kopi gayo arabika. Bagi orang Gayo kopi telah menjadi nafas kehidupannya. Dari biji kopi itu, orang Gayo menyambung hidup, menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi. 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

TRIBUNGAYO. COM, JAKARTA -

Sengkewe
kunikahen ko orom kuyu
wih kin walimu
tanoh kin saksimu
Lo kin saksi kalammu"

(Sengkewe
Kunikahkan dikau dengan angin
Air walimu
Tanah saksimu
Matahari saksi kalam mu)

Teks klasik itu diucapkan sebagai "doa sengkewe" atau "mantra sengkewe" oleh para petani kopi tatkala memulai menanam kopi. Orang Gayo menyebut kopi dengan  "sengkewe." 

Dalam teks lain, orang Gayo menjadikan kopi sebagai ungkapan pepatah, berbunyi: "muriti-riti lagu kupi, murentang-rentang lagu gantang," artinya (bersusun rapi seperti batang kopi, berbanjar seperti baris kentang).

Ungkapan lain berbunyi kulni buet gere be kupi (begini besar kerja kok tanpa kopi). 

Ungkapan ini kedengarannya sebuah canda dan sidiran halus kepada tuan rumah untuk segera menyediakan kudapan dan tentu minuman kopi dalam satu pekerjaan besar yang dilakukan bersama-sama.

Begitulah cara masyarakat Gayo menghayati kopi sebaga bagian dari kehidupannya.

"Mantra sengkewe" dan ungkapan "pepatah kopi" memperlihatkan bahwa kopi bukan sekedar minuman, melainkan ekspresi kebudayaan yang dihayati sangat intens.

Bagi orang Gayo kopi telah menjadi nafas kehidupannya. Dari biji kopi itu, orang Gayo menyambung hidup, menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi.

Dari hasil kebun kopi orang Gayo kawin dan naik haji. Kopi adalah zamrud yang dirawat dengan segenap jiwa.

Masyarakat Gayo  menyebut kopi dengan istilah "sengkewe" atau “Kewe” atau "Kawa" seperti  yang terekam dalam "mantra kopi" tadi.

Daun semgkewe diminum setelah diseduh dengan air panas. Batangnya digunakan sebagai pagar.

Penyair Didong, almarhum Ibrahim Kadir masih ingat ketika orang tuanya merebus daun “kewe” untuk diminum.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved