Sabtu, 6 Juni 2026

Kupi Senye

Raja Ampat Dirusak oleh Rakusnya Manusia

Tak hanya itu, konflik kepentingan dan penindasan terhadap rakyat Papua terus terjadi. Tanah mereka dirampas, suara mereka dibungkam.

Tayang:
ISTIMEWA
OPINI TRIBUNGAYO - Iman Ahmadi adalah Tokoh Muda Pelaku Adat Istiadat di Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah. Ia menuliskan opini berjudul 'Raja Ampat Dirusak oleh Rakusnya Manusia', Selasa (10/6/2025). 

Oleh: Iman Ahmadi *) 

Sebelum viral  ke publik kasus tambang di Raja Ampat, kita tidak benar-benar tahu bahwa negeri ini menyimpan sepotong serpihan surga di bumi.

Pulau-pulau kecil yang menjulang di atas laut biru, hutan lebat yang menyatu dengan langit, dan kehidupan laut yang memesona.

Sebuah mahakarya ciptaan Allah yang tak tertandingi.

Sungguh, alam Raja Ampat adalah lukisan Tuhan yang menakjubkan membuat siapa pun yang melihatnya terdiam dalam kekaguman.

Bagi seorang muslim, tempat seperti ini semestinya menjadi sarana tadabbur alam, merenungi keagungan Sang Pencipta.

Sebab, siapa pun yang melihat keindahan itu dengan hati yang jernih, akan tunduk dan mengakui bahwa hanya Allah yang Maha Kuasa. 

Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS. Ali ‘Imran: 190)

Namun kini, keindahan itu ternoda. Lukisan indah itu perlahan rusak, tergores oleh kerakusan manusia.

Tambang nikel masuk ke jantung Raja Ampat, menebas pepohonan, meracuni sungai, mencemari laut, dan mengusir satwa dari habitatnya.

Dibalik pembangunan yang dijanjikan, justru kehancuran yang dibawa.

Kita teringat sebuah dialog dalam sejarah penciptaan manusia. Saat Allah mengabarkan pada para malaikat bahwa Dia akan menciptakan khalifah di bumi, mereka bertanya:

"Apakah Engkau hendak menjadikan makhluk yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu".

Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah: 30).

Betapa dalam makna ayat ini. Ketika manusia menjauh dari wahyu, menggunakan akal tanpa petunjuk dari Allah, maka ketakutan para malaikat itu benar-benar terjadi.

Kerusakan demi kerusakan muncul, darah ditumpahkan, dan keadilan pun lenyap.

Allah SWT telah mengingatkan:

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS. Ar-Rum: 41).

Kerusakan di Raja Ampat bukan satu-satunya. Papua, yang selama ini tersisih dari sorotan media, telah lama menjadi ladang kerusakan.

Deforestasi besar besaran terjadi untuk membuka lahan sawit dan tambang.

Menurut laporan Greenpeace (2022), lebih dari 4.000 hektar hutan Papua hilang hanya dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir karena ekspansi industri.

Padahal hutan Papua adalah paru-paru terakhir dunia, rumah bagi ribuan spesies endemik, dan sumber kehidupan masyarakat adat.

Tak hanya itu, konflik kepentingan dan penindasan terhadap rakyat Papua terus terjadi. Tanah mereka dirampas, suara mereka dibungkam.

Sementara para pemodal dan penguasa terus menumpuk kekayaan di atas penderitaan rakyat kecil.

Inilah akibatnya ketika akal tidak dituntun oleh wahyu. Ketika Al-Qur’an ditinggalkan sebagai pedoman hidup. Padahal Allah telah memberi peringatan:

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaha: 124)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Kerusakan terbesar di dunia terjadi karena dua perkara: berpaling dari wahyu dan mengikuti hawa nafsu.”

Bukankah itu yang sedang kita saksikan hari ini?

Negeri ini mayoritas muslim. Tapi hukum yang berlaku bukan hukum Islam.

Aturan buatan manusia, yang katanya demokratis, justru membuka jalan selebar-lebarnya untuk keserakahan. Yang kaya semakin kaya.

Yang miskin makin terjepit. Yang berkuasa semakin pongah. Dan rakyat? Rakyat semakin jengah, semakin kehilangan harapan.

Saudaraku, saatnya kita sadar. Pembangunan tanpa arah wahyu bukanlah kemajuan, tapi kehancuran yang tertunda.

Jangan biarkan keindahan alam ini lenyap di tangan manusia-manusia rakus. Jangan biarkan negeri ini hancur karena kita diam.

Saatnya kembali pada aturan Allah. Hanya dengan Islam yang mengatur kehidupan secara menyeluruh, dari lingkungan, kepemimpinan, ekonomi hingga sosial kerusakan ini bisa dicegah.

Karena Islam tidak hanya memuliakan manusia, tapi juga menjaga alam semesta sebagai amanah dari Sang pencipta.

Mari bangkit. Mari suarakan perubahan.

Bukan sekadar perbaikan tambal sulam, tapi perubahan sistemik yang mengembalikan kita kepada fitrah sebagai khalifah Allah di muka bumi, yang merawat dan menjaga, bukan merusak dan menghancurkan. (*)

*) Penulis adalah Tokoh Muda Pelaku Adat Istiadat di Kecamatan Bebesen, Aceh Tengah.

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

 


 

 

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved