Kupi Senye
Hikmah Musabaqah Tilawatil Quran
Secara umum, MTQ adalah lomba membaca Al-Qur’an secara tartil, merdu, dan sesuai kaidah bacaan yang benar.
Oleh: Kausara Usman *)
A. Pengertian Musabaqah Tilawatil Qur’an
Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) merupakan salah satu bentuk perlombaan yang diselenggarakan untuk mengagungkan Al-Qur’an melalui bacaan yang merdu dan sesuai dengan kaidah tajwid.
Kegiatan ini bukan hanya ajang kompetisi, namun juga sarana syiar Islam yang membawa nilai-nilai pendidikan, kebudayaan, serta spiritualitas.
MTQ memiliki makna yang sangat dalam bagi umat Islam karena menjadi momentum dalam menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an.
Mempererat ukhuwah Islamiyah, dan membangun karakter Qur’ani dalam kehidupan bermasyarakat.
Musabaqah Tilawatil Quran berasal dari kata musabaqah yang berarti perlombaan, dan tilawatil Quran yang berarti membaca Al-Qur’an.
Secara umum, MTQ adalah lomba membaca Al-Qur’an secara tartil, merdu, dan sesuai kaidah bacaan yang benar.
Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) menyelenggarakan MTQ secara berkala di berbagai tingkat mulai dari tingkat desa/kelurahan, kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional, bahkan internasional.
B. Hikmah Musabaqah Tilawatil Quran
A. Menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an
Suatu proses yang harus dilakukan secara bertahap dan terus-menerus, baik secara individu maupun melalui lingkungan keluarga, pendidikan dan masyarakat.
Berikut beberapa cara strategis dan efektif untuk menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an:
1. Memahami Keutamaan Al-Qur’an
2. Membiasakan Diri Membaca Al-Qur’an
3. Memahami Isi dan Maknanya (Tadabbur)
4. Menghafal Al-Qur’an
5. Mengajarkan Al-Qur’an kepada Orang Lain
6. Mengikuti Majelis atau Komunitas Al-Qur’an
7. Menyaksikan dan Mengikuti Kegiatan Al-Qur’an (seperti MTQ)
8. Menjadikan Al-Qur’an sebagai Pedoman Hidup
9. Menghias Rumah dengan Suasana Qur’ani
10. Berdoa agar Diberi Cinta terhadap Al-Qur’an
B. Meningkatkan kualitas qari dan qariah (pembaca Al-Qur’an)
Salah satu bagian penting dari upaya menjaga kemuliaan Al-Qur’an dan memperkuat syiar Islam.
Qari dan qariah yang berkualitas tinggi tidak hanya memiliki suara yang indah, tetapi juga menguasai ilmu tajwid, makharijul huruf, adab tilawah, dan memahami makna ayat-ayat Al-Qur’an.
Berikut adalah langkah-langkah strategis dan aplikatif untuk meningkatkan kualitas qari dan qariah:
1. Pembinaan Berjenjang dan Berkelanjutan
2. Pelatihan Vokal dan Irama (Nagham)
3. Pemahaman Kandungan Ayat
4. Adab dan Akhlak Seorang Qari/Qariah
5. Partisipasi dalam Lomba dan Evaluasi
6. Fasilitas dan Dukungan Pemerintah/Institusi
7. Pemanfaatan Teknologi
8. Membangun Komunitas Tilawah
9. Doa dan Spiritualitas
C. Syiar Islam dan media dakwah
Syiar Islam dan media dakwah merupakan dua aspek penting dalam menyebarkan ajaran Islam kepada umat manusia.
Keduanya saling berkaitan dan saling menguatkan.
Syiar Islam adalah bentuk tampilan nilai-nilai Islam secara terbuka dan masif di tengah masyarakat, sementara media dakwah adalah alat atau sarana untuk menyampaikan pesan-pesan keislaman tersebut.
Secara bahasa, "syiar" berasal dari kata sya‘ara yang berarti "mengetahui" atau "menyadari".
Dalam konteks Islam, syiar adalah segala bentuk perbuatan, simbol, atau kegiatan yang menunjukkan eksistensi Islam dan menyampaikan pesan-pesan keagamaan secara nyata kepada masyarakat.
Contoh syiar Islam: Adzan di masjid, Peringatan hari besar Islam (Maulid, Isra’ Mi’raj), MTQ, pesantren kilat, tabligh akbar.
Busana Muslim dan akhlak Islami di ruang public. Media Dakwah Media dakwah adalah sarana atau alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan dakwah.
Dakwah sendiri adalah seruan atau ajakan kepada kebaikan dan kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.
D. Mempererat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim)
Bagian penting dari ajaran Islam yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang harmonis, damai, dan saling tolong-menolong dalam kebaikan.
Ukhuwah Islamiyah tidak hanya sebatas hubungan emosional, tetapi juga hubungan spiritual dan sosial yang dilandasi keimanan kepada Allah SWT.
Berikut penjelasan lengkap tentang cara mempererat ukhuwah Islamiyah:
1. Memahami Hakikat Ukhuwah Islamiyah
Ukhuwah Islamiyah berasal dari kata ukhuwah (persaudaraan) dan Islamiyah (yang bersifat keislaman), yaitu hubungan persaudaraan antar sesama umat Islam yang dilandasi oleh iman dan takwa kepada Allah SWT.
2. Meningkatkan Rasa Empati dan Kepedulian
3. Menjaga Lisan dan Perilaku
4. Saling Menasihati dalam Kebaikan
5. Memperbanyak Silaturrahmi
6. Menjaga Persatuan dan Menghindari Perpecahan
7. Mengamalkan Akhlak Rasulullah
8. Aktif dalam Kegiatan Sosial dan Keagamaan
9. Memaafkan dan Menghindari Dendam
10. Berdoa untuk Kebaikan Sesama Muslim
E. Meningkatkan spiritualitas masyarakat
Langkah strategis dalam membentuk kehidupan sosial yang lebih bermakna, damai, dan berakhlak.
Dalam Islam, spiritualitas bukan hanya soal ibadah ritual, tetapi juga mencakup kualitas hubungan seseorang dengan Allah SWT, sesama manusia, dan lingkungan.
Masyarakat yang spiritual cenderung menjunjung nilai-nilai moral, keadilan, kasih sayang, dan kebersamaan.
1. Meningkatkan Pemahaman dan Penghayatan terhadap Al-Qur’an
2. Menghidupkan Ibadah secara Kolektif dan Konsisten
3. Keteladanan dari Tokoh Agama dan Pemimpin Masyarakat
4. Pendidikan Keagamaan yang Menyentuh Aspek Ruhiyah
5. Membangun Budaya Sosial Islami
6. Menyediakan Ruang untuk Refleksi dan Taubat
7. Menggunakan Media untuk Dakwah dan Motivasi Ruhani
8. Mendorong Kehidupan yang Seimbang antara Dunia dan Akhirat
9. Menumbuhkan Kesadaran tentang Kehadiran Allah dalam Kehidupan Sehari-hari
10. Berdoa dan Memohon Hidayah secara Terus-Menerus
F. Menumbuhkan nilai kompetisi yang Islami
Sangat penting dalam membentuk karakter umat Islam yang unggul namun tetap menjunjung tinggi akhlak mulia.
Dalam Islam, kompetisi (musabaqah) bukanlah sekadar menang-menangan, tetapi ajang untuk berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) dengan niat yang lurus, cara yang benar, dan tujuan yang mulia.
Berikut adalah cara-cara menumbuhkan nilai kompetisi yang Islami, baik dalam konteks pendidikan, dakwah, maupun kehidupan sosial:
1. Menanamkan Niat yang Ikhlas
2. Mengedepankan Semangat Fastabiqul Khairat
3. Menumbuhkan Sportivitas dan Kejujuran
4. Menjadikan Akhlak sebagai Ukuran Keberhasilan
5. Membiasakan Doa dan Tawakal dalam Kompetisi
6. Menumbuhkan Rasa Saling Mendoakan dan Mendukung
7. Mengarahkan Kompetisi untuk Kemanfaatan Umat
8. Evaluasi dan Muhasabah Pasca Kompetisi
9. Membina Kompetitor agar Tidak Sombong dan Tidak Minder
10. Peran Guru, Orang Tua, dan Lembaga.
*) Penulis adalah Staf pada Dinas Syariat Islam Kabupaten Aceh Tengah dan Dosen Tidak Tetap di STIT Al Washliyah Aceh Tengah.
KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Kausara-Usman-MPd.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.