Senin, 8 Juni 2026

Berita Nasional Hari Ini

Museum Bahari Jakarta, Jejak Sejarah Maritim Nusantara

Museum Bahari Jakarta adalah salah satu dari rangkaian bastion atau benteng pertahanan yang dibangun mengelilingi tembok kota Batavia sejak abak ke-17

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Sri Widya Rahma
TRIBUNGAYO.COM/FIKAR W EDA
MUSEUM BAHARI JAKARTA - Salah satu tim dari media yang berbasis di dataran tinggi Gayo Aceh Tengah,TribunGayo.com melakukan kunjungan ke Museum Bahari Jakarta, pada Kamis (3/7/2025). Dalam kunjungan tersebut, disambut  pengelola museum dan dipersilakan menyusuri ruang-ruang pameran yang menyimpan jejak kejayaan maritim Indonesia sejak zaman kerajaan, masa kolonial Belanda, hingga era kemerdekaan. 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

TRIBUNGAYO.COM, JAKARTA - Salah satu tim dari media yang berbasis di dataran tinggi Gayo Aceh Tengah,TribunGayo.com melakukan kunjungan ke Museum Bahari Jakarta, pada Kamis (3/7/2025).

Dalam kunjungan tersebut, disambut  pengelola museum dan dipersilakan menyusuri ruang-ruang pameran yang menyimpan jejak kejayaan maritim Indonesia sejak zaman kerajaan, masa kolonial Belanda, hingga era kemerdekaan.

Salah satu fokus kunjungan adalah pada Bastion Culemborg, sisa benteng pertahanan Batavia abad ke-17 yang berada di sisi barat Kota Tua, serta Monumen Pantura, yang mengisahkan kejayaan pelabuhan Sunda Kelapa sebagai pusat perdagangan internasional. 

Bertempat di kawasan Museum Bahari, Bastion Culemborg adalah salah satu dari rangkaian bastion atau benteng pertahanan yang dibangun mengelilingi tembok kota Batavia sejak pertengahan abad ke-17.

Dibangun sekitar tahun 1645, Bastion Culemborg berlokasi tepat di seberang bekas Kastil Batavia dan menjadi bagian dari dua bastion yang tersisa hingga kini bersama Bastion Zeeburg.

Nama "Culemborg" diambil dari tempat kelahiran Gubernur Jenderal Antonio van Diemen yang memimpin pada 1636–1645.

Di lokasi ini pula berdiri Westzijdsche Pakhuizen, gudang-gudang di sisi barat kota Batavia yang kini menjadi bagian dari Museum Bahari.

Sementara itu, Monumen Pantura menyimpan kisah penting dari masa Kerajaan Pajajaran hingga masa kolonial Belanda dan Inggris.

Kawasan muara Sungai Ciliwung, yang dikenal sebagai Sunda Kelapa, pernah menjadi pelabuhan utama yang ramai disinggahi pedagang Asia dan Eropa sebelum ditaklukkan VOC pada 1619 dan dijadikan pusat kegiatan ekspor-impor.

Kawasan ini tidak hanya menjadi pelabuhan dagang, tetapi juga lokasi pabrik dan benteng, mencerminkan dinamika ekonomi dan militer Batavia.

Informasi sejarah ini diperkaya dengan peta-peta tua dan ilustrasi yang memperlihatkan bagaimana struktur kota berkembang dari masa ke masa.

Papan informasi edukatif ini disusun oleh kolaborasi antara Museum Bahari, Indonesian Heritage Society, Komunitas Jelajah Kalapa, serta Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dalam rangka mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pelestarian warisan sejarah kota.

Kegiatan ini diharapkan menjadi pengingat pentingnya menjaga memori kolektif bangsa, serta membuka ruang bagi generasi muda untuk belajar dari masa lalu dan membangun masa depan yang lebih berakar pada sejarah dan budaya.

Kunjungan ini membuka wawasan  sejarah maritim memiliki kaitan erat dengan dinamika daratan. (*) 

Baca juga: Jangan Salah Buat! Begini Format Surat Lamaran & Surat Pernyataan Diri Seleksi PPPK Kejaksaan 2025 

Baca juga: Polisi Ungkap Motif Pembunuhan Lima Orang Sekeluarga di Aceh Tenggara, Ternyata Ini Pemicunya

Baca juga: 2 Juli 2025 Pendaftaran PPPK Kejaksaan RI Dibuka, Hanya Boleh Daftar 1 Jabatan dalam 1 Formasi

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved