Menggali Sejarah
Guel, Tarian Membangunkan Gajah dalam Tragedi Bener Meriah
Masyarakat Gayo mengaitkan Tari Guel dengan tragedi Sengeda dan Bener Meriah, dua bersaudara kandung putra Reje Linge XIII.
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Sri Widya Rahma
Laporan Fikar W Eda | Jakarta
TRIBUNGAYO.COM, JAKARTA - Sanggar Uluh Guwel, memainkan Tari Guel di mulut Loyang (Gua) Mendale, yang berada di tepi Danaut Lut Tawar, dalam satu peristiwa kesenian bertajuk “Inilah Gayo” pada 2008.
Loyang Mendale, adalah tempat ditemukannya rangka manusia dan beberapa peninggalan benda budaya yang berasal dari 8.400 tahun silam.
Pimpinan Sanggar Uluh Guwel, Yusrizal SPd, memperlihatkan kemampuan anak-anak sanggarnya dalam memainkan Guel di atas tanah berbatu.
“Kami selalu memainkan Tari Guel dalam peristiwa-peristiwa tertentu. Dan kami terus memainkan tari ini sebagai wujud aspresiasi dan penyelamatan terhadap khasanah kesenian Gayo,” kata Yusrizal, guru sebuah sekolah dasar yang mahir memainkan dan membuat suling bambu.
“Kami akan terus menari….,” tambahnya.
Sejarah Tari Guel dan Kaitannya dengan Anak Reje Linge
Tari Guel merupakan akar seluruh tari di Gayo. Dimainkan pada upacara perkawinan dan kegiatan-kegiatan tertentu.
Guel berarti bunyi atau bebunyian, adalah tarian yang seluruh gerakannya meniru gerak belalai gajah, kibasan sayap burung punyuk, kepak elang saat menerkam mangsa, dan geliat lintah.
Masyarakat Gayo mengaitkan Tari Guel dengan tragedi Sengeda dan Bener Meriah, dua bersaudara kandung putra Reje Linge XIII dari ibu dari Kesultanan Johor.
Ayah mereka, Reje Linge XIII, menjadi penguasa di Pulau Lingga (sekarang Kepulauan Riau, pen) setelah penaklukan Johor oleh Kerajaan Aceh Darussalam.
Reje Linge XIII, adalah salah seorang panglima Kerajaan Aceh Darussalam yang kemudian mendapat wilayah kekuasan di Pulau Lingga.
Di pulau itu pula ia meninggal dunia, meninggalkan seorang istri dan dua putra, si sulung Bener Meriah dan si bungsu Sengeda.
Ketika Sengeda dan Bener Meriah pulang menjenguk Tanoh Linge, berbekal identitas cincin warisan Reje Linge XIII, ternyata mendapat penolakan keras dari Reje Linge XIV yang sedang berkuasa di Kerajaan Linge.
Kehadiran Sengeda dan Bener Meriah, dicurigai untuk merebut tampuk kekuasaan kerajaan.
Dengan penuh siasat, Bener Meriah kemudian dibunuh. Tapi tidak dengan Sengeda. Ia diselamatkan Cik Serule, Perdana Menteri Kerajaan Linge.
Tari Guel
Reje Linge XIII
Reje Linge XIV
Bener Meriah
Sengeda
Johor
Gajah Putih
sejarah
Kesultanan Aceh
Kerajaan Linge
Gayo
Takengon
Aceh Tengah
TribunGayo.com
berita tribun gayo hari ini
keber gayo
| 74 CJH Gayo Lues Tergabung dalam Kloter 8 Bersama Aceh Besar dan Bireuen, Ini Jadwal Keberangkatan |
|
|---|
| Pompa Bio Solar di SPBU Lawe Desky Aceh Tenggara Rampung Diperbaiki, Pengisian Kembali Normal |
|
|---|
| Pemkab Gayo Lues Resmi Berlakukan WFH Setiap Hari Jumat |
|
|---|
| Dua Kampung di Aceh Tengah Raih Penghargaan Website dan Media Sosial Terbaik |
|
|---|
| Tinjau Huntara di Bener Meriah, Tito Karnavian Nilai Pembangunan di Kampung Tunyang Berjalan Cepat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Tari-Guel-dan-Gajah-Putih.jpg)