Kamis, 4 Juni 2026

Banjir Aceh Tengah

Menuju Bintang, Kampung Tertimbun Lumpur dan Pelukan Haru Ceh Didong 

One-one menyambut dengan sunyi yang ganjil. Kafe Bu Lena, ikon rasa Gayo terhantam lumpur.

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Sri Widya Rahma
ISTIMEWA
SENIMAN - Ceh Kasman saat menerima bantuan yg diterima seniman hasil sumbangan seniman Jakarta, Sabtu (3/1/2026). Bintang kian dekat. Kami menuju rumah Ceh Didong Kasman, Lut Tawar Jaya. 

Ringkasan Berita:
  • Tim Desember Kopi Gayo berangkat dari Takengon menuju Bintang, cuaca cerah memberi kesempatan melintas jalur yang sebelumnya diguyur hujan.
  • Abang Aman Syaiful dan Ceh Didong Bujang Juare Mengaya menggambarkan betapa banjir bandang menyeret ribuan kubik kayu, meninggalkan luka besar di kampung-kampung.
  • Bantuan dari seniman Jakarta dan The Atjeh Connection Foundation diserahkan, membuat Kasman terdiam dengan mata basah.

Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W Eda | Aceh Tengah

TribunGayo.com, TAKENGON - “Cuaca cerah. Sebaiknya kita segera berangkat. Kalau hujan, kita khawatir. Jalan licin dan longsor,” ujar Abang Aman Syaiful, Sabtu (3/1/2026).

Baca juga: Menyusuri Jalan Luka Bencana ke Kem dan Buntul Sara Ine Bener Meriah

Kalimat singkat itu menjadi penanda awal perjalanan yang bukan sekadar lintasan kilometer, tetapi lintasan perasaan.

Pagi Takengon tampak bersahabat. Berbeda dengan sehari sebelumnya yang diguyur hujan, langit kali ini membuka jalan.

Arloji menunjukkan pukul 10.00 WIB, saat Toyota Avanza bergerak perlahan meninggalkan Hitam Putih Kafe.

Kopi panas dan kue bohong baru saja dituntaskan ritual kecil sebelum menjemput kenyataan besar di Bintang.

Tim Desember Kopi Gayo di dalam mobil, Devie Matahari, Maestro Didong Ceh M Din, Azam Pegayon dan saya sendiri.

Di depan, Abang Aman Syaiful menyetir, Ceh M Din duduk di sampingnya.

Di pinggir jalan, Pertamax eceran Rp 16 ribu per liter 20 liter diisi. Selebihnya, kami isi dengan doa.

Mobil melaju melewati Belang Kolak II, Gedung Olah Seni, DPRD Aceh Tengah, Kantor Bupati.

Di depan Polres belok kanan, menyusuri Jalan Lebe Kader, Simpang Lima, Malim Dewa, lalu menyeberang Totor Bale jembatan rangka baja yang menghubungkan Kampung Hakim Bale dengan kota.

Di Dedalu, longsoran tampak menganga di punggung Bur Telege, seperti luka yang belum sembuh.

One-one menyambut dengan sunyi yang ganjil. Kafe Bu Lena, ikon rasa Gayo terhantam lumpur.

Sawah membentang cokelat, basah, tebal. Di tikungan, runtuhan tebing masih mengalirkan air.

“Kemarin hujan, ragu kita melintas. Sekarang cerah,” kata Abang Aman Syaiful.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved