Senin, 4 Mei 2026

Banjir Bener Meriah

Kisah Zulfikar Aman Windi: Gemuruh dari Bur Reduk Lungun Hantam Seni Antara 

Kemp, sebuah dusun di Desa Seni Antara, Kecamatan Permata, Bener Meriah, sejak dulu dikenal sebagai jalur lintasan utama

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Rizwan
ISTIMEWA
BANJIR - Zulfikar Aman Windi selamat dari banjir bandang di Seni Antara. Ia imam di mushalla setempat.  

Ringkasan Berita:
  • Kemp, sebuah dusun di Desa Seni Antara, Kecamatan Permata, Bener Meriah, sejak dulu dikenal sebagai jalur lintasan utama yang menghubungkan Bener Meriah dengan Aceh Utara.
  • Kini, setelah bencana besar melanda, daerah ini berubah menjadi pusat perdagangan beras dan minyak karena akses jalan perlahan dapat dilalui kendaraan.
 

Laporan Wartawan TribunGayo Fikar W. Eda I Bener Meriah

TribunGayo.com, REDELONG - Kemp, sebuah dusun di Desa Seni Antara, Kecamatan Permata, Bener Meriah, sejak dulu dikenal sebagai jalur lintasan utama yang menghubungkan Bener Meriah dengan Aceh Utara.

Kini, setelah bencana besar melanda, daerah ini berubah menjadi pusat perdagangan beras dan minyak karena akses jalan perlahan dapat dilalui kendaraan.

Meski demikian, perjalanan dari Seni Antara menuju Lhokseumawe tetap penuh risiko. jalan darurat itu licin, berlubang, dan di beberapa titik diapit jurang yang menganga, seakan mengingatkan warga bahwa bencana belum benar-benar pergi.

Namun di balik krisis pangan, kebun-kebun kopi yang amblas, dan rumah-rumah yang hancur, ada kisah kemanusiaan yang menggugah dari seorang lelaki bernama Zulfikar Aman Windi.

Malam Ketika Segalanya Berubah

Zulfikar Aman Windi, seorang imam masjid yang disegani di Kemp, kini dijuluki warga sebagai sang penantang maut. Julukan itu bukan tanpa sebab.

Pada malam ketika banjir bandang datang, 26 November 2025, ia berada di rumahnya, rumah yang berdiri tepat di sisi kebun yang selama ini menjadi sumber nafkah keluarganya.

Biasanya, air bah hanya naik setinggi mata kaki. Itulah yang selama belasan tahun diyakininya.

Tetapi malam itu berbeda. Dari arah Bur Reduk Lungun, suara gemuruh terdengar seperti ribuan batu berguling dari puncak gunung.

Warga yang mendengarnya spontan berhamburan keluar rumah, termasuk Pak Senang, kepala sekolah SD Seni Antara, yang kemudian kehilangan seluruh dokumen pentingnya.

Zulfikar berdiri terpaku di halaman rumah. Gemuruh itu semakin dekat, semakin keras.

Ia hanya mampu mengucap, “La ilaha illallah…” sambil berserah penuh pada takdir.

Dalam hitungan detik, dinding air setinggi pohon kelapa menghantam pemukiman Kemp.

Batu-batu besar, kayu gelondongan, dan lumpur pekat menyeret apa saja yang dilewatinya.

Rumah-rumah tak lagi tampak sebagai tempat tinggal melainkan jalur air yang menebas semuanya hingga rata.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved