Senin, 20 April 2026

Seni dan Budaya

Kuflet Bersama Perupa Hamzah Diskusikan Seni Rupa Kontemporer

Hamzah berbagi pengalaman pribadinya sebagai perupa sekaligus memberikan dasar-dasar pemahaman mengenai seni rupa kontemporer.

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Sri Widya Rahma
ISTIMEWA
DISKUSI - Jalannya diskusi di Komunitas Kuflet, menghadirkan narasumber tamu, Hamzah, S.Sn., M.Sn., dosen Seni Murni Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, diskusi berlangsung pada Sabtu (30/2025). Diskusi yang berlangsung hangat ini menjadi wadah refleksi dan tukar pikiran bagi para pegiat seni, sekaligus memperkuat peran Kuflet sebagai ruang dialog seni di Padang Panjang. 

Laporan Fikar W Eda - Jakarta

TRIBUNGAYO.COM, JAKARTA – Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang kembali menggelar diskusi mingguan pada Sabtu (30/8/2025).

Kali ini menghadirkan narasumber tamu Dosen Seni Murni Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Hamzah SSn MSn.

Diskusi yang dimoderatori Fajri Rahmat Ilahi itu mengangkat tema Seni Rupa Kontemporer.

Dalam pemaparannya, Hamzah berbagi pengalaman pribadinya sebagai perupa sekaligus memberikan dasar-dasar pemahaman mengenai seni rupa kontemporer.

Ia menjelaskan bahwa seni kontemporer tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang perjalanan seni.

Pada masa lalu, karya seni banyak diciptakan atas permintaan penguasa atau lembaga, seperti mural di gereja atau potret raja.

Seiring perkembangan zaman, seniman mulai memperjuangkan kebebasan individu dalam berkarya.

“Seni rupa kontemporer lahir dari kesadaran seniman untuk mengekspresikan kebebasan berpikir dan berkarya,” ungkap alumni Magister Seni Rupa ISI Yogyakarta itu.

Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta, Nofal menyinggung soal seni abstrak dan posisinya dalam seni kontemporer.

Menanggapi hal itu, Hamzah menegaskan bahwa seni abstrak kerap disalahpahami.

“Banyak orang mengira lukisan abstrak bisa dibuat siapa saja, bahkan anak kecil sekalipun. Padahal, seni abstrak adalah puncak dari perkembangan seni rupa.

Untuk memahaminya, kita harus menguasai unsur dan prinsip seni rupa terlebih dahulu. Baru setelah itu inspirasi, refleksi, serta pengalaman menyatu dalam karya,” jelas Hamzah yang telah memamerkan karyanya ke berbagai negara.

Hamzah juga menekankan pentingnya warna dalam karya seni, baik sebagai simbol psikologis maupun sebagai bahasa visual personal seniman.

“Ada warna panas, warna dingin, simbol umum, hingga simbol pribadi yang lebih subjektif. Semuanya bisa memperluas makna dalam karya kontemporer,” tambahnya.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved