Selasa, 28 April 2026

Berita Nasional Hari Ini

DSI Buka Kelas Internasional Bidang Hukum APS Bersama UNSURYA

DSI bekerja sama dengan Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (UNSURYA), membuka Kelas Internasional Program Magister Hukum di bidang APS.

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Sri Widya Rahma
ISTIMEWA
DSI - Presiden DSI Prof Sabela Gayo (tengah) di Forum Internasional Penyelesaian Sengketa Asia Africa di Jakarta. Program ini menjadi yang pertama di Indonesia yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam bidang APS dan dirancang untuk melahirkan praktisi hukum Indonesia yang mampu berkiprah di kancah global. 

Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W Eda | Jakarta

TribunGayo.com, JAKARTA - Dewan Sengketa Indonesia (DSI) bekerja sama dengan Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (UNSURYA), membuka Kelas Internasional Program Magister Hukum di bidang Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS).

Program ini menjadi yang pertama di Indonesia yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam bidang APS dan dirancang untuk melahirkan praktisi hukum Indonesia yang mampu berkiprah di kancah global.

Pembukaan program ini berlangsung bersamaan dengan Asia Africa International Alternative Dispute Resolution Forum 2025, yang diselenggarakan pada Kamis (16/10/2025) hingga Jumat (17/10/2025), di Raung Hercules, Kampus A UNSURYA, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Forum internasional ini diinisiasi oleh DSI sebagai wadah pertukaran pengetahuan dan kerja sama antarnegara dalam penguatan sistem penyelesaian sengketa alternatif (Alternative Dispute Resolution/ADR).

Presiden DSI, Prof Sabela Gayo SH MH PhD,menyampaikan bahwa kehadiran kelas internasional ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing sumber daya hukum Indonesia.

“Program Magister Hukum APS ini bukan hanya yang pertama di Indonesia, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi kolaborasi internasional dalam pendidikan dan praktik penyelesaian sengketa lintas batas negara.

Kami ingin menyiapkan mediator, arbiter, dan konsiliator yang mampu bekerja dengan standar global,” ujar Prof Sabela Gayo.

Forum internasional ini turut didukung oleh berbagai lembaga penyelesaian sengketa dari Asia dan Afrika, diantaranya Asian International Dispute Resolution Association (AIDRA), Tanzania Institute of Arbitrators (TIArb).

Cambodian Centre for Mediation (CCM), Southeast Asian Dispute Resolution Network (SEADRN), Halo Mediator dan Kopi Mediasi.

Beberapa tokoh dunia turut menjadi pembicara dalam forum ini, seperti Abe Quadan (Presiden AIDRA), Prof Dr Amran Suadi SH MM, Navin Kumar Singh (CEO India International Arbitration Center-IIAC), Usaje A Mwambene (TIArb) dan Meas Savath (Presiden Cambodian Center for Mediation).

Selain itu, sejumlah akademisi dan praktisi hukum dari berbagai negara juga berpartisipasi sebagai paper presenters, baik secara langsung maupun daring.

Sebagai bagian dari kegiatan tersebut, DSI menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan UNSURYA dan India International Arbitration Center (IIAC).

Acara ini juga diisi dengan pemberian penghargaan kepada mediator terbaik Asia-Afrika versi AIDRA dan DSI, yang diterima oleh Dr Rr. Dijan Widijowati, Prof Dr Elza Syarief, Prof Dr Made Sudjana dan Dr Ispindar Zen.

Hingga saat ini, DSI telah memiliki 5.500 mediator, 144 konsiliator, 258 ajudikator, 776 arbiter, serta 125 praktisi dewan sengketa yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved