Selasa, 28 April 2026

Berita Nasional Hari Ini

Seniman Jakarta Gagas Gerakan Puisi untuk Sumatera

Indonesia memasuki Desember 2025 dengan kabar duka. Banjir bandang dan longsor yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Rizwan
ISTIMEWA
SENIMAN - Seniman Jakarta Gagas Gerakan Puisi untuk Sumatra 

Ringkasan Berita:
  • Indonesia memasuki Desember 2025 dengan kabar duka. Banjir bandang dan longsor yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat meninggalkan jejak kerusakan luas.
  • Hingga 30 November, BNPB melaporkan 442 orang meninggal dan 402 masih hilang.
  • Di Sumatera Utara saja, 217 korban telah terkonfirmasi, sementara lebih dari dua ratus warga masih belum ditemukan.

Laporan Wartawan TribunGayo Fikar W. Eda/Jakarta

TRIBUNGAYO.COM, JAKARTA – Indonesia memasuki Desember 2025 dengan kabar duka. Banjir bandang dan longsor yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat meninggalkan jejak kerusakan luas.

Hingga 30 November, BNPB melaporkan 442 orang meninggal dan 402 masih hilang.

Di Sumatera Utara saja, 217 korban telah terkonfirmasi, sementara lebih dari dua ratus warga masih belum ditemukan.

Akses antarwilayah porak-poranda; jembatan putus, sekolah dan rumah warga tersapu air, serta ribuan keluarga harus hidup di pengungsian dengan pasokan terbatas.

Tim SAR dan relawan berpacu dengan waktu menembus desa-desa yang terisolasi untuk mengirim bantuan dasar dan layanan medis darurat.

Di tengah kegetiran ini, sekelompok sastrawan dan pegiat literasi di Jakarta bergerak. Mereka meluncurkan inisiatif bertajuk “Puisi bagi Korban Bencana Sumatera”, sebuah ajakan terbuka bagi publik untuk mengirim puisi dan ilustrasi yang akan dihimpun dalam buku digital dan edisi cetak terbatas.

Seluruh hasil penjualan dan donasi akan dialirkan bagi penyintas, termasuk para seniman di wilayah terdampak.

Gerakan ini diprakarsai oleh Ahmadun Y. Herfanda, Mustafa Ismail, Iwan Kurniawan, Dedy Tri Riyadi, dan Rintis Mulya, bekerja sama dengan komunitas literasi seperti Info Sastra, litera.co.id, Tinemu.co, dan Lingkar Sajak. Seluruh proses berlangsung secara gotong-royong tanpa honorarium bagi kontributor.

“Dalam situasi memilukan seperti ini, puisi bukan sekadar estetika,” ujar Ahmadun Y. Herfanda.

“Ia adalah jembatan empati, penanda bahwa kita hadir bersama para penyintas,”

Iwan Kurniawan menambahkan bahwa transparansi adalah fondasi dari gerakan ini.

“Setiap rupiah bantuan adalah amanah. Laporan penyaluran donasi akan dipublikasikan rutin, agar publik tahu bahwa kesenian dalam program ini adalah pemantik solidaritas, bukan tujuan akhir,” katanya.

Koordinasi karya dan donasi ditangani oleh Rintis Mulya, yang menegaskan bahwa publik dapat berkontribusi melalui karya maupun donasi langsung.

“Yang tidak sempat menulis bisa berdonasi. Kita bergerak cepat, tetapi tetap tertib dan akuntabel.”

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved