Kamis, 7 Mei 2026

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini

Kenapa Rupiah Melemah? Ini Faktor Global hingga Domestik yang Menekan Mata Uang Garuda

Namun, penguatan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk membalikkan tren pelemahan yang terjadi sejak akhir April 2026.

Tayang:
Editor: Sri Widya Rahma
TribunGayo.com/Sri Widya Rahma
NILAI TUKAR RUPIAH - Foto uang rupiah Indonesia yang di ambil pada Senin (9/3/2026). Pergerakan rupiah tercatat masih berada di level tinggi sekitar Rp17.300 hingga Rp17.346 per dolar AS, menunjukkan kondisi pelemahan yang cukup konsisten di pasar global. 

Ringkasan Berita:
  • Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa hari terakhir.
  • Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dipicu oleh faktor eksternal, terutama penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia.
  • Tekanan terhadap rupiah berlanjut seiring penguatan indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) ke level sekitar 98.

TribunGyao.com, NASIONAL - Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa hari terakhir.

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini 1 Mei 2026 Berhasil Menguat

Pergerakan rupiah tercatat masih berada di level tinggi sekitar Rp17.300 hingga Rp17.346 per dolar AS, menunjukkan kondisi pelemahan yang cukup konsisten di pasar global.

Rupiah Sempat Menguat Tipis, Namun Masih Rentan

Pada perdagangan Jumat (1/5/2026), rupiah sempat menguat tipis sekitar 0,25 persen di pasar spot menjadi Rp17.303 per dolar AS.

Namun, penguatan tersebut dinilai belum cukup kuat untuk membalikkan tren pelemahan yang terjadi sejak akhir April 2026.

Penguatan sementara ini juga terjadi seiring dengan pergerakan sejumlah mata uang Asia yang turut menguat terhadap dolar AS, seperti peso Filipina, won Korea Selatan, dan yuan China.

Baca juga: Rupiah Kembali Anjlok Hari Ini 30 April 2026, Tembus Level Rp17.346 per Dolar AS

Tekanan Global Jadi Faktor Utama

Dikutip dari Kontan.co.id, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dipicu oleh faktor eksternal, terutama penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia.

Indeks dolar AS yang menguat membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berada dalam tekanan.

Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia juga menjadi faktor penting karena Indonesia merupakan negara pengimpor minyak.

Josua Pardede menjelaskan, harga minyak mentah jenis Brent crude oil sempat berada di kisaran US$ 111–112 per barel, dipicu ketegangan geopolitik menyusul rencana blokade laut yang lebih panjang di kawasan Selat Hormuz.

Tekanan terhadap rupiah berlanjut seiring penguatan indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) ke level sekitar 98.

Di saat yang sama, harga minyak terus meningkat, memperkuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Faktor Domestik Ikut Menekan

Selain faktor global, tekanan dari dalam negeri juga memperburuk kondisi rupiah.

Meningkatnya permintaan dolar untuk impor, pembayaran dividen, serta biaya logistik membuat tekanan terhadap mata uang Garuda semakin besar.

"Permintaan dolar di dalam negeri meningkat untuk pembayaran impor, repatriasi dividen, dan ongkos pengiriman yang lebih mahal," kata Josua.

Secara keseluruhan, pelemahan rupiah disebabkan oleh kombinasi faktor eksternal dan internal, mulai dari penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, kebijakan suku bunga The Fed, hingga tekanan permintaan valuta asing di dalam negeri.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved