Melihat Adat Perkawinan di Tanah Gayo
Seluruh peserta acara "berguru" larut dalam kesedihan dan menitikkan air mata saat calon pengantin diberi nasihat dalam bentuk pepongoten, irama sedih
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Rizwan
Laporan Fikar W.Eda I Aceh Tengah
TRIBUNGYAO.COM, TAKENGON - Seluruh peserta acara "berguru" larut dalam kesedihan dan bahkan menitikkan air mata saat calon pengantin diberi nasihat dalam bentuk pepongoten, irama sangat sedih.
Peristiwa ini terjadi dalam acara "berguru" di kediaman Nilafiani, SKom, di Kampung Belang Mersa Takengon, Senin (10/7/2023).
Nilafiani SKom adalah pejabat menengah di Sekretariat DPRK Aceh Tengah.
Ia melepaskan anak sulungnya Riyan Nanda menikahi gadis Belang Kolak Dua Takengon, Tri Jayanti.
Dalam tradisi Gayo, calon pengantin diberi nasihat dalam acara "berguru" sehari sebelum akad nikah.
Nasihat disampaikan dalam bentuk "pepongoten" seni sastra lisan Gayo yang dilantunkan oleh seorang ceh didong.
Dalam hajatan di kediaman Nilafiani, yang menyampaikan "pepongoten" adalah Kabri Wali dan Khairu Rizki, dua ceh ternama dari grup didong Teruna Toweren.
Dalam pepongoten itu, diuraikan sosok calon pengantin, termasuk masa kecilnya.
Selanjutnya juga disampaikan saat memasuki jenjang perkawinan, dinasihati untuk tetap rendah hati dan bersikap hormat terutama kepada orang tua yang membesarkannya.
Irama pepongoten sangat menyayat hati. Peserta acara "berguru" menundukan kepala, ikut hanyut dalam irama sangat menyentuh.
Sebagian bahkan menitikkan air mata, tak kuasa menahan rasa haru.
"Berguru" dihadiri oleh keluarga dan kerabat serta perangkat kampung.
Nasihat lain juga disampaikan dalam bentu petuah "melengkan" oleh salah seorang keluarga yang dituakan.
Baca juga: Ketua Majelis Adat Gayo Bantacut Aspala, Jangan Berhenti Berbahasa Gayo
Berguru Pidato Adat dan Kain Empat Warna
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Riyan-Nanda-calon-pengantin.jpg)