Rabu, 13 Mei 2026

Berita Aceh Tengah

Sosok Ibrahim Kadir, Pencipta Syair Puteri Pukes, Kisah Pengantin jadi Batu

Ibrahim Kadir juga menciptakan banyak karya lain yang begitu populer dan dinyanyikan oleh banyak kalangan, seperti “Kin takengen, Batil, Geremukunah.

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Mawaddatul Husna
DOKUMEN FIKAR W EDA
Ibrahim Kadir memainkan alat musik teganing dalam satu pertunjukan di Bayakmi Kopi Kebayakan, Takengon. 

Laporan Fikar W Eda | Aceh Tengah

TRIBUNGAYO.COM, TAKENGON - Ibrahim Kadir, salah seorang penyair ternama di Gayo. Ia melahirkan banyak karya yang melegenda.

Salah satu inspirasi penciptaan karyanya adalah beberapa legenda di Tanah Gayo, antara lain Puteri Pukes, Puteri Ijo, Atu Belah dan lain-lain.

Ia juga menciptakan “Datu Beru” berisi kisah perempuan terhormat dari Negeri Gayo.

Ibrahim Kadir juga menciptakan banyak karya lain yang begitu populer dan dinyanyikan oleh banyak kalangan, seperti “Kin takengen, Batil, Geremukunah, Lut Tenelen,” dan sebagainya.

Inilah sosok Ibrahim Kadir.

Ia lahir di Takengon, 1942. Meninggal dunia, Selasa (1/9/2020) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Datu Beru Takengon, Aceh Tengah.

Ia seniman penting di Gayo. Almarhum penyair Sali Gobal memuji keberadaan Ibrahim yang dinilainya sebagai generasi penerus cemerlang.

Ibrahim Kadir menguasai dengan baik sastra tradisional Gayo, puisi didong, sebuku dan lain-lain. Karya-karya puisi Ibrahim sangat populer di tanah kelahirannya.

Ibrahim Kadir pernah gelisah dan terganggu saat menyaksikan sejumlah film dokumenter tentang Aceh dalam satu festival film mini di Jakarta pada 2007 silam. 

Ia “mengomel” sepanjang perjalanan pulang. Ia tak mengerti bagaimana mungkin situasi dan kondisi Aceh yang demikian kompleks didekati dengan cara yang sangat sederhana.

Film-film yang disaksikan Ibrahim Kadir itu memang ada yang hanya berisi wawancara masyarakat mengenai satu tema.

Cara ini banyak menghiasi film-film tentang Aceh yang dibuat semasa konflik dan pasca tsunami. “Itu bukan film. Itu ya wawancara,” Ibrahim Kadir melepaskan kekesalannya.

Ia lalu membandingkan film “Tjoet Nja’ Dhien” karya sutradara Eros Djarot dan “Puisi Tak Terkuburkan” karya sutradara Garin Nugroho yang ikut dibintanginya.

Sejumlah judul yang disaksikannya dalam “Mini Festival Film Aceh” sama sekali tidak sebanding dengan kedua film tersebut.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved