Rabu, 13 Mei 2026

Berita Aceh Tengah

Sosok Ibrahim Kadir, Pencipta Syair Puteri Pukes, Kisah Pengantin jadi Batu

Ibrahim Kadir juga menciptakan banyak karya lain yang begitu populer dan dinyanyikan oleh banyak kalangan, seperti “Kin takengen, Batil, Geremukunah.

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Mawaddatul Husna
DOKUMEN FIKAR W EDA
Ibrahim Kadir memainkan alat musik teganing dalam satu pertunjukan di Bayakmi Kopi Kebayakan, Takengon. 

“Jangan main-main bikin film tentang Aceh. Kita lihat usaha Eros Djarot, melakukan studi sangat panjang sebelum membuat Tjoet Nja’ Dhien.

Begitu juga dengan Garin. Kalau bikin film Aceh, harus melebihi kedua film tadi, paling kurang setaralah,” ujar Ibrahim Kadir yang berperan sebagai “Penyair” dalam “Tjoet Nja’ Dhien” dan tokoh utama dalam film “Puisi Tak Terkuburkan.”

Ibrahim Kadir salah seorang penyair terpenting di Gayo, Aceh Tengah. Namanya “melambung” di dunia sinema Indonesia berkat permainannya di “Tjoet Nja’ Dhien,” dan “Puisi Tak Terkuburkan.” 

Di film terakhir ini, Ibrahim Kadir meraih penghargaan internasional sebagai pemeran utama  terbaik di Singapura dan India.

Film “Puisi Tak Terkuburkan,” adalah kisah hidup Ibrahim Kadir yang ditahan tanpa proses pengadilan di tahun 1965.

Ia ditahan di penjara Takengon bersama-sama dengan anggota masyarakat lain yang dituduh berhaluan komunis.

Film itu mengisahkan situasi dan kondisi psikologis para tahanan menjelang hari kematian. Ibrahim Kadir dilepaskan, setelah aparat hukum mengaku salah tangkap.

Selama di penjara, Ibrahim Kadir menulis “puisi ratapan” yang ikut ditampilkan dalam film tersebut.

“Itulah satu-satunya film berbahasa Gayo yang menggondol penghargaan internasional,” kata Ibrahim Kadir sambil terkekeh lepas.

Di tanah Aceh, nama Ibrahim Kadir tak bisa lepas dari garapan tari massal untuk keperluan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Nasional ke 12 di Banda Aceh pada 1981.

Boleh disebut, dialah salah seorang pelopor tari massal  dalam hajatan MTQ Nasional. Setahun sebelumnya Ibrahim kadir menggarap tari massal untuk MTQ Tingkat Provinsi Aceh di Sabang.

Kemahiran mengolah tari massal diperolehnya dari bangku Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Jakarta.

Pada 1971. Ibrahim Kadir kuliah di IKJ atas  biaya Pemerintah Daerah Aceh Tengah. Ia lulus dengan predikat sangat baik pada 1973.

Sukses garapan tari massal MTQ Nasional, Ibrahim Kadir serta merta memperoleh banyak hadiah. Antara lain, rumah yang ditempati dibangun dengan biaya Gubernur Aceh Majid Ibrahim.

Sementara pagarnya dibiayai Bupati Aceh Tengah M Beni Banta Cut. Perabot rumah dibelikan oleh Christine Hakim, pemeran Tjoet Nja’ Dhien. (*)

Baca juga: Pj Gubernur Aceh Serahkan SK Terhadap 2.156 PPPK dan 69 ASN

Baca juga: Hasil Tes MotoGP 2024: Fabio Di Giannantonio Tercepat di Sirkuit Jerez, Marquez Lima Besar

Baca juga: 70 Contoh Judul Skripsi untuk Mahasiswa Pendidikan Agama Islam Terbaru

Sumber: TribunGayo
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved