Berita Nasional
Kilas Balik, Rendra dan Sepiring Mie Aceh
SEPIRING mie Aceh di warung Banglades terhidang di meja. Rendra kemudian menambahkan acar bawang.
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Rizwan
Laporan Fikar W.Eda I Jakarta
TRIBUNGAYO.COM, JAKARTA - SEPIRING mie Aceh di warung Banglades terhidang di meja. Rendra kemudian menambahkan acar bawang.
Sambil menjelaskan makna bumbu kari bagi kesehatan liver, Rendra mulai menyantap mie itu sendok demi sendok, hingga tuntas sampai sendok terakhir.
Warung Mie Aceh Bangladesh di Jln Margonda Raya, Depok, adalah langganan Rendra dan keluarga.
Selain mie, penyair yang dijuluki “Si Burung Merak” ini juga gemar pulut panggang dan tape, dua jenis makanan khas Aceh yang tersedia di warung itu.
Mas Willy, begitu ia biasa disapa, memiliki ikatan emosional sangat tinggi terhadap Aceh.
Penguasaannya terhadap Aceh sangat luas, termasuk soal kulinernya.
Ia sangat fasih menjelaskan sisi-sisi Aceh, terutama yang terkait dengan kebudayaan.
Berulang kali, Mas Willy menerangkan tentang Hamzah Fansyuri yang disebutnya sebagai tokoh penting dalam mengangkat harkat dan martabat bahasa Melayu menjadi bahasa sastra dan bahasa ilmu.
“Hamzah Fansyuri lah orang pertama yang menjadikan bahasa Melayu dalam sastra. Jauh sebelum kemunculan Raja Ali Haji di Riau,” jelas Rendra, suatu ketika sesaat setelah meninggalkan Warung Banglades.
Hamzah Fansyuri, ahli tasawuf dan sastrawan penting Nusantara hidup pada abad 16, merupakan tokoh penting dalam masa kerajaan Aceh.
Baca juga: Rendra Si Burung Merak Menulis Puisi "Ballada Cut Nyak Dhien"
Ia memanfaatkan bahasa Melayu sebagai medium penulisan sastra.
Salah satu sajaknya yang terkenal adalah “Syair Perahu” yang mengibaratkan tubuh manusia sebagai perahu dalam samudra kehidupan.
Pada 21 April 2007, Rendra akan hadir di Aceh dalam pentas “Hikayat Rindu Tiga Maestro; Rendra, Iwan Fals, Sawung Jabo.”
Penyair ini akan tampil dengan sejumlah sajak yang dibacakan pada pentas itu.
Mas Willy pertama kali menjejakkan kaki di Serambi Mekkah tahun 1970.
Atas undangan Pemda Aceh dan universitas Syiah Kuala (Unsyiah).
Masa itu, selama di Aceh, Rendra bertemu dengan banyak kalangan termasuk sastrawan angkatan Pujangga Baroe yang ia kagumi, Ali Hasjmy.
Waktu itu ia sempat berkeliling ke seluruh daerah di Aceh dan mementaskan "Qasidah Barzanji," serta "Oidipus Rex," di depan Masjid Raya Baiturrahman dan Gedung Perbasi Peunayong Banda Aceh.
Boleh jadi, Pemerintah Daerah Aceh-lah, satu-satunya Pemda di Indonesia yang berani mengundang Rendra secara resmi.
Kunjungan Rendra ke Aceh menjadi kontroversial, karena pada saat yang sama ia tengah dibungkam oleh rezim Orde Baru.
Baca juga: Penyair WS Rendra Ciptakan Puisi untuk USK: Universitas Syiah Kuala Guru Kami
Sejak kunjungan itu, Mas Willy tidak diperkenankan kembali mendatangi Aceh alias "dicekal."
Impian bertandang kembali ke Aceh baru terwujud lagi di era reformasi.
Rendra datang bersama penyair Taufiq Ismail dan sederet sastrawan lain dalam program Siswa Bertanya Sastrawan Menjawab di Banda Aceh, 2003.
| Kuflet Siap Luncurkan Antologi Puisi Bencana Jilid II “Air Mata Sumatera” |
|
|---|
| Rhoma Irama Akan Pimpin Doa dan Penggalangan Dana untuk Aceh - Sumatera |
|
|---|
| Bank Pemerintah Diminta Tangguhkan Kredit ASN Korban Bencana Aceh dan Sumatera |
|
|---|
| Aceh Darurat Kemanusiaan, FKML Desak Prabowo Agar Berkantor Sementara di Tanah Bencana |
|
|---|
| Menjaga Nyala Ditengah Duka Tanah Gayo, Dana Aksi Kemanusiaan Seniman Bali |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/WS-Rendra.jpg)