Kupi Senye
Pacuan Kuda Ikon Baru Kota Wisata Takengon
Kota Wisata Takengon yang merupakan pusat pemerintahan kabupaten Aceh Tengah yang terletak sebelah timur Danau Laut Tawar
Oleh Hammaddin Aman Fatih *)
Kota Wisata Takengon yang merupakan pusat pemerintahan kabupaten Aceh Tengah yang terletak sebelah timur Danau Laut Tawar dengan posisinya berada dilembah yang dikelilingi oleh deretan pengunungan.
Pemandangan yang indah. Airnya yang bening. Sesekali terlihat riak gerakkan ikan-ikan yang ada di dalam danau tersebut.
Dan bila kita berkunjung ke kota ini, terasa tidak afdal kalau tidak menikmati 2 hal.
Pertama, atrasksi alam yang terjadi, yaitu Sunset dan Sunrise yang menarik dengan suhu yang dingin dan menikmati seteguk Kopi Gayo .
Tak boleh dilewatkan bila kita telah menginjakkan kaki di Kota Dingin Aceh Ini.
Kedua, menghirup kopi Gayo dengan istilah keunikannya “heavy body and light acidity” yakni sensasi rasa keras saat kopi ditenguk dan aroma yang menggugah semangat dan memiliki rasa yang khas masuk kawasan “Single Orgini Coffee” merupakan jenis asal kopi yang berkualitas tinggi.
PON XII Aceh-Sumut yang dilaksanakan dari tanggal 8 - 20 September 2024 telah berlalu. Ada tiga venue kegiatan olahraga yang diadakan di kota Wisata Takengon.
Pacuan Kuda yang digelar di arena pacuan kuda HM Hasan Gayo Belang Bangka.
Triathlon yang dipusatkan Dermaga Alfitrah pinggiran sebelah barat danau Laut Tawar, dan Bridge atau jenis olahraga pemakaian kartu remi yang diadakan di Hotel Renggali juga berada dipinggiran danau Laut Tawar tapi di sebelah baratnya.
Dari tiga cabang olahraga yang diadakan di kota Takengon. Ada satu cabang olahraga yang sangat menarik, yaitu olahraga Pacuan Kuda yang dilaksanakan hanya dua hari, yaitu tanggal 11-12 September 2024 itu telah membuat catatan tersendiri.
Ratusan ribu penonoton, konon mencapai 120 ribu orang memadati venue pacuan kuda HM Hasan Gayo Bebangka-Takengon itu, telah membuat kontingen dari luar terkesima dengan kehadiran penonton yang begitu membludaknya.
Salah seorang kontingen mengatakan “Saya penggemar kuda, bahwa sejak saya kecil sampai sekarang belum pernah melihat penonton begitu banyaknya. Bisanya paling banyak hanya dibawah lima ribuan, itupun dan sangat wah sekali. Ini ribuan, merinding saya melihatnya, begitu semaraknya, antusiasnya orang disini melihat pacuan kuda,”.
Ketua Komite Olah Raga Nasional (KONI) sangat mengapresiasi pelaksanaan pacuan kuda di venue pacuan kuda di Kota Wisata Takengon.
Dia mengucapkan terima kasih dan sangat membanggakan. Olahraga pacuan Kuda bisa berjalan dengan
bagus, lancar dan telah membuat catatan dalam sejarah pacuan kuda.
Tidak ada dalam sejarah di dunia ada penonotan lebih 120 ribu orang menghadirinya. Yang ada cuma di tanah Gayo-Aceh.
Kesuksesan pelaksanaan pacuan kuda tersebut, tidak merupakan sebuah kesalahan, kalau pasca pelaksanaan PON XXI Aceh- Sumut itu, pacuan kuda bisa menjadi ikon baru bagi kota Wisata Takengon itu.
Hal ini juga didukung dengan adanya, ada venue olahraga pacuan warisan PON XII Aceh-Sumut yang sudah standar nasional dan akan menarik lebih banyak acara, kompetisi, dan pelatihan yang dapat meningkat popularitas olahraga itu dan berskala event besar.
Dan juga pelaksanaan olahraga berkuda sudah menjadi bagi dari tradisi budaya tahun masyarakat di tanah
tanah Gayo (Aceh Tengah-Bener Meriah dan Gayo Lues), yang dilaksanakan selama 7 hari berturut-turut.
Olahraga pacuan kuda pertama kali diadakan di tepi bagian timur danau Laut Tawar, tepatnya di Pantai Pasir Kampung Menye kecamatan Bintang Aceh Tengah. Waktu itu kaum perempuan di larang ikut menonton pertandingan tersebut, dianggap tabu.
Pada waktu itu, para joki umumnya remaja tanggung berusia muda dan tidak dibenarkan mereka memakai baju saat mengikut perlombaan tersebut.
Kuda, joki dan pemiliknya yang menang dalam pertandingan tersebut diarak keliling kampung. Pertandingan pacuan kuda diadakan di tepi pantai yang berpasir dengan jarak tempuh ± 2
km.
Pada saat pertandiangan tersebut berlangsung, ada sebahagian penduduk mengadakan kenduri sambil membunyikan canang secara bersahutan.
Pada tahun 1904 M dengan keluarnya perintah Pemerintahan Kolonial Belanda, agar lokasi pertandingan dipindahkan ke pusat pemerintahan di kota Takengon, tepatnya di kampung Blangkolak.
Menurut suatu sumber, bahwa Belanda dulunya memindahkan lokasi pertandingan pacuan kuda ke Takengon dari Bintang adalah dengan alasan untuk menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ratu Wilhemmina (Ratu Belanda).
Baru di tahun 2003, keluar lagi keputusan Pemda Aceh Tengah untuk memindahkan lokasinya ke lapangan H. Muhammad Hasan Gayo di Desa Blang Bebangka kecamatan Pegasing yang masih wilayah lingkungan Kabupaten Aceh Tengah.
Dilaksanakan biasanya sehari setelah diadakan upacara 17 Agutusan sebagai tanda memperingati dan menyemarakan kemerdekaan Indonesia setiap tahunannya.
Di tanah Gayo dahulunya, kuda hanya menjadi alat angkutan disamping sebagai alat yang digunakan untuk membajak sawah dan saat itu juga menjadi salah satu alat untuk menentukan standar kekayaan seseorang.
Biasanya dahulu bila masyarakat tanah Gayo telah selesai pekerjaan dipersawahan, maka penduduk mencari kesibukan dengan mengurus kuda sambil menunggu waktu membajak sawah lagi.
Biasanya hal ini bertepatan dengan bulan Agustus dan masyarakat mengadakan kegiatan pacuan kuda.
Ada referensi yang mengatakan, bahwa dulu orang yang pertama kali menggunakan kuda sebagai alat transportasi di tanah Gayo adalah Reje Linge.
Beliau menggunakan kuda sebagai alat trasportasi untuk meninjau mendatangi daerah kekuasaannya dari pusat pemerintahan kerajaan yang berada di tanah Linge.
Beliau berangkat dari Negeri Linge menuju ke daerah Serule terus menuju ke Samarkilang dan langsung balik ke Negeri Linge lagi.
Begitu juga sebaliknya dari Negeri Linge berangkat ke daerah Samarkilang terus ke Serule dan langsung ke Negeri Linge dengan posisi melingkar dan tak pernah dia pergi dan pulang dengan jalan yang sama.
Melihat potensi yang sudah ada tersebut, merupakan modal besar atau asset yang mempunyai potensi menjanjikan cemerlang di masa mendatang, bila dikelola oleh tangan-tangan professional, terutama dalam hal kepariwisataan.
Sangat memungkinkan untuk dijadikan distinasi yang mempunyai daya tarik tersendiri, unik untuk dijadikan salah satu objek wisata kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara.
* Penulis adalah Antropolog, penulis buku People of the Coffee dan Kepala sekolah SMAN 1 Permata Kabupaten Bener Meriah dan berdomisili di Kota Takengon.
KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
Baca juga: Mereka Bilang PON di Aceh Gagal dan Terburuk, Benarkah?
Baca juga: Guru Penggerak Harus Dapat Menciptakan Mutu Pendidikan Hebat
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Hammaddin-Aman-Fatih-1.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.