Kupi Senye
Mereka Bilang PON di Aceh Gagal dan Terburuk, Benarkah?
Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI yang digelar di Aceh dan Sumatera Utara telah berlalu beberapa hari berlalu
Oleh Fazil, S.S.,M.I.Kom *)
Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI yang digelar di Aceh dan Sumatera Utara telah berlalu beberapa hari berlalu. Namun, pesta olahraga terbesar di Indonesia ini masih berjejak dan beraroma yang belum habis dibawa waktu.
Semangat sportivitas yang membara, dan tentunya, kenangan tak terlupakan bagi para atlet dan masyarakat
kedua provinsi.
Akan tetapi, dibalik gemerlap acara, ada riak-riak kecil yang berusaha mengusik
kenangan. Suara-suara sumbang di media sosial, melabeli PON kali ini sebagai "gagal" dan "terburuk", bermunculan bak jamur di musim hujan.
Sentimen negatif ini berakar dari berbagai kekurangan yang terjadi selama penyelenggaraan, mulai dari
masalah konsumsi yang kurang memuaskan hingga kontroversi keputusan wasit yang memancing emosi.
Lantas, benarkah PON di Aceh seburuk yang digambarkan? Mari kita selami lebih dalam, melihat dari berbagai sudut pandang, dan mencoba memahami kompleksitas di balik sebuah perhelatan akbar.
Mengkritisi dengan Perspektif yang Lebih Luas: Melampaui Stigma Negatif
Setiap peristiwa besar, tak terkecuali PON, pasti memiliki kekurangan. Namun, apakah adil jika kita menilai keseluruhan penyelenggaraan hanya berdasarkan beberapa kekurangan tersebut?
Jika kita menggunakan kacamata yang lebih luas, melihat secara holistik, tentu ada banyak aspek positif yang patut diapresiasi.
Mungkin ada 10-20 persen kekurangan, tapi bagaimana dengan 80-90 % lainnya yang berjalan lancar?
Sayangnya, media sosial seringkali bertindak bak kaca pembesar, memperbesar kekurangan dan mengaburkan keberhasilan. Narasi negatif yang terus-menerus digaungkan dapat membentuk opini publik yang keliru, membuat masyarakat terjebak dalam pusaran pesimisme.
PON bukan sekadar ajang adu kekuatan dan ketangkasan para atlet. Lebih dari itu, PON adalah instrumen strategis pemerintah dalam mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia. Banyak yang tidak menyadari bahwa penunjukan daerah-daerah tertentu sebagai tuan rumah PON memiliki tujuan mulia,
yaitu mengalirkan dana pembangunan dari pusat ke daerah.
Infrastruktur yang dibangun, seperti stadion megah, venue olahraga modern, hingga fasilitas pendukung lainnya, akan menjadi aset berharga bagi daerah tersebut di masa depan.
Kita bisa belajar dari Papua, yang menyelenggarakan PON XX pada tahun 2021. Meski awalnya diragukan karena keterbatasan infrastruktur, Papua berhasil membuktikan bahwa mereka mampu.
Kini, giliran Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang akan menjadi tuan rumah PON pada tahun 2028. Ini adalah kesempatan emas bagi kedua provinsi tersebut untuk mengejar ketertinggalan dan membangun fondasi yang kuat untuk masa depan yang lebih baik.
Bukan Soal Sempurna, Tapi Keberanian Bertindak
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Fazil-SSMIKom.jpg)