Kamis, 4 Juni 2026

Kupi Senye

Melahirkan Guru yang Berjiwa Profetik

Seorang pendidik yang berjiwa profetik tidak akan fokus pada transmisi pengetahuan semata.

Tayang:
Editor: Sri Widya Rahma
FOR TRIBUNGAYO.COM
Dr Johansyah MA. 

Oleh: Dr Johansyah MA *)

Guru tidak pernah lepas dari perhatian kita di setiap kali membincangkan pendidikan.

Karena guru adalah salah satu unsur utama pendidikan yang tidak mungkin tergantikan, sekali pun dengan teknologi.

Katakanlah  Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, yang saat ini digembarkan sebagai sistem komputer sangat cerdas.

Serta mampu memberikan berbagai informasi yang diperlukan manusia.

Bagaimana pun, AI itu memiliki keterbatasan dan beroperasi sesuai dengan setingan manusia.

Sebagai produk tenologi AI  tidak mungkin mampu bersikap, berpikir dan berbuat di luar setingan manusia.

Kalau ada yang mengatakan hal tersebut bisa saja terjadi seperti yang dalam film fiksi transpormers, itu tetap absurd.

Sebab al-Qur’an sendiri tidak mensinyalir hal tersebut, dan secara tegas menempatkan manusia sebagai makhluk terkomplit.

Artinya peran guru tidak akan pernah tergantikan. 

Posisi guru yang begitu strategis tentu tidak sekedar menjadikan mereka bangga kalau hanya mengandalkan aspek pengetahuan.

Sebab produk teknologi seperti AI mungkin jauh lebih memadai.

Maka yang menjadi modal utama guru sebenarnya adalah spiritualitas sebagai salah satu dimensi kefitrahan manusia yang tidak mungkin dimiliki oleh AI atau sejenisnya.

Kehebatan sains tidak akan pernah melahirkan produk teknologi yang berhati nurani, berkasih sayang, tanggung jawab, dan sifat-sifat kemanusiaan lainnya.

Aspek inilah yang sejatinya menyatu dalam diri guru selain kapasitas pengetahuan yang dimilikinya.

Hal ini sekaligus menjadikan dirinya tetap bermarwah, memiliki harga diri, dan tidak mustahil bertekuk lutut pada produk teknologi.

Spiritualitas tersebut memungkinkan untuk ditumbuhkembangkan melalui penyerapan nilai-nilai humanistik.

Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW sehingga seseorang bisa tampil menjadi pribadi yang berjiwa profetik. 

Seorang pendidik yang berjiwa profetik tidak akan fokus pada transmisi pengetahuan semata.

Akan tetapi lebih pada penumbuhan kesadaran peserta didik yang paham akan asal kejadian, dan apa tujuan hidupnya.

Kalaulah hanya sebatas pengetahuan, tentu seperti yang ditegaskan sebelumnya, AI mungkin lebih informatif dan komplit.

Namun kesadaran manusiawi hanya akan tumbuh dan berkembang di tangan para guru yang berjiwa profetik.

Tahun 2017 penulis pernah mengulas sebuah artikel di sebuah media online yang bertajuk “Memperkuat Dimensi Psikologi Pendidik”.

Serta pembahasan yang sama juga dalam bentuk jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh jurnal Intelegensia IAIN Takengon pada oktober 2020 lalu.

Ide intinya adalah bagaimana seorang guru itu menjadi sosok yang paham psikologi pendidikan.

Sehingga memudahkannya dalam menunbuhkembangkan kepribadian peserta didik.

Melalui model-model pembelajaran yang kreatif dan inovatif berdasarkan nilai-nilai akhlakul karimah atau yang penulis sebut pribadi yang berjiwa profetik.

Baru-baru ini pula Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti melontarkan hal yang senada.

Penulis yakin ini sudah ada dalam benak beliau sejak lama, bahwa menurutnya guru itu harus kuat psikologi untuk memudahkannya dalam merancang dan melaksanakan proses pendidikan.

Kita berharap ini menjadi salah satu agenda utama Pak menteri sebagai salah satu upaya mendasar dalam membenahi sumber daya guru menuju pendidikan yang lebih baik.

Fokus Pada Pembenahan Kualitas Guru

Sudah saatnya reformasi pendidikan tidak lagi mengarah pada pergantian kurikulum.

Bagi penulis hal tersebut adalah reformasi klasik yang selalu saja terjadi pada setiap kali pergantian menteri pendidikan.

Ke depan, kiranya kebijakan perbaikan pendidikan lebih ditekankan pada pembenahan kualitas guru secara serius.

Bukan berarti apa yang telah dilakukan oleh pemerintah selama ini main-main, apalagi dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang cukup besar.

Namun boleh jadi langkah dan kebijakan yang ditempuh kurang berdampak pada peningkatan mutu pendidikan.

Salah satu contohnya kebijakan sertifikasi guru.

Ada banyak hal yang sejatinya dipertanyakan, salah satunya program pendidikan profesi (PPG) untuk memperoleh sertifikat pendidik.

Masalahnya adalah kapan sebaiknya hal tersebut dilakukan? 

Menurut hemat penulis, PPG itu merupakan paket lanjutan dari seorang sarjana pendidikan.

Sama seperti mahasiswa kedokteran, di mana untuk mendapat gelar dokter, mereka wajib mengikuti program profesi untuk mendapatkan gelar tersebut.

Yakni co-assistant (co-as) atau yang lazim kita sebut koas.

Demikian juga dalam pendidikan, setelah seseorang menjadi sarjana pendidikan, maka dia diwajibkan untuk mengambil sertifikat pendidik.

Salah satu keuntungannya adalah ketika mulai bertugas sebagai guru, mereka tidak disibukkan lagi dengan PPG yang dapat mengganggu aktivitas belajar mengajar.  

Selain kebijakan pemerintah, hal ini juga patut menjadi perhatian perguruan tinggi.

Terutama fakultas pendidikan keguruan atau fakultas tarbiyah di perguruan tinggi Islam tentang output-nya yang diarahkan pada para calon lulusan yang berjiwa profetik.

Dimana kurikulumnya harus menekankan dan memperkuat dimensi psikologi pendidikan dan muatan konsling secara khusus.

Kalaulah banyak guru yang disorot karena kompetensinya yang lemah, daya inovasi dan kreativitas rendah.

Serta berorientasi pada materi, tentu yang menjadi salah satu sasaran kritik kita adalah fakultas tarbiyah.

Karena inilah ‘pabrik’ pencetak para calon sarjana pendidikan, artinya ada yang perlu dibenahi.

Bagi penulis kurikulumnya yang perlu diperkuat dengan dimensi psikologi pendidikan tadi sebagai disiplin ilmu dalam menanamkan jiwa profetik. 

Dalam kurun waktu yang cukup panjang kita telah salah kaprah memahami siapa sebenarnya guru konsling.

Setiap sekolah memiliki guru konsling dan umumnya menangani peserta didik yang nakal dan suka membuat masalah.

Padahal konsep dasarnya, setiap guru itu adalah konselor dengan dasar psikologi pendidikan yang kuat.

Dimana dia mampu memahami karakter masing-masing peserta didik dan mampu membangun komunikasi yang baik dengan mereka.

Artinya konsling itu bukan hanya menangani peserta didik yang bermasalah.

Akan tetapi juga sebuah upaya edukatif untuk memberikan motivasi, dan mengarahkan peserta didik sesuai dengan bakat dan minatnya. 

Akhirnya, guru harus memahami psikologi pendidikan agar menjadi pribadi yang berjiwa profetik.

Sehingga mampu menjadi konselor dengan bidang studi apapun yang diampunya.

Kita mendorong pemerintah untuk merumuskan kebijakan ke arah ini.

Juga mendorong perguruan tinggi yang memiliki fakultas pendidikan atau tarbiyah untuk menguatkan kurikulum yang berbasis pada penguatan dimensi psikologis.

Sehingga mampu melahirkan calon guru inovatif dan kreatif.

Melahirkan metodologi dan model pembelajaran baru.

Semuanya memang tidak mudah, tetapi selalu ada ruang dan kesempatan bagi kita jika ingin berbenah.

*) Penulis adalah Ketua Lembaga Penjamin Mutu, STIT Al-Washliyah Aceh Tengah.

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved