Kupi Senye
Jihad Kultural, Mempertahankan Identitas Budaya Gayo
Tulisan ini merupakan ringkasan dari artikel yang penulis siapkan dalam acara Focus Group Discussion (FGD).
Oleh: Dr Johansyah MA *)
Tulisan ini merupakan ringkasan dari artikel yang penulis siapkan dalam acara Focus Group Discussion (FGD).
Diselenggarakan oleh UPTD Musium Tanoh Gayo, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tengah pada 10 Desember 2024 lalu di Hotel Green Bayu Hill Takengon.
Dengan tema “Mempertahankan Identitas Budaya Gayo dan Pekan Kebudayaan Gayo Serumpun”.
Penulis dipercaya sebagai salah satu narasumber pemantik dalam diskusi tersebut.
Adapun pesertanya berasal dari enam Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang.
Fokus kajiannya adalah upaya konservasi dan revitalisasi bahasa Gayo.
Hal ini merupakan respon dan bentuk kekhawatiran atas hasil risets Balai Bahasa
Aceh tahun 2019, yang menyatakan bahwa bahasa Gayo berada pada level rentan punah.
Serta berdasarkan penelitian Summer Institute Of Linguistics (SIL) yang menyatakan status vitalitas bahasa Gayo berada pada level terancam punah.
Demikian halnya beberapa hasil riset lainnya dalam tema yang sama, secara umum mengarah kepada kesimpulan sama.
Ini adalah persoalan kultural yang sangat serius bagi Gayo.
Oleh sebab itu dibutuhkan jihad kultural untuk mengatasi-minimal memperkecil potensi
kepunahan bahasa Gayo.
Atau paling tidak menunda punahnya bahasa Gayo.
Sekilas di sini akan dipaparkan faktor penyebab, dan bagaimana upaya konservasi dan revitalisasi Bahasa Gayo yang ditempuh untuk ‘membatalkan’ beberapa hasil riset yang merisaukan di atas.
Kepunahan bahasa dapat disebabkan oleh berbagai indikator pemicu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/FGD-Mempertahankan-Identitas-Budaya-Gayo.jpg)