Jumat, 5 Juni 2026

Kupi Senye

Tujuh Dimensi dalam Universitas Kehidupan

Tujuh dimensi umum universitas kehidupan yang bersumber dari surah al-Fatihah adalah panduan komprehensif.

Tayang:
FOTO IST
Dr Joni SPd MPd BI adalah Dosen Pascasarjana INISNU Temanggung dan Dr Johansyah MA merupakan Dosen STIT Al-Washliyah Aceh Tengah. 

Di sinilah kemudian konsep tujuh dimensi dalam universitas kehidupan menjadi jalan penuntun dalam mengembangkan dan menerapkan sistem pendidikan yang tepat dalam mewujudkan visi pendidikan dimaksud.

Sebagian besar proses pendidikan kita saat ini nyatanya lebih mengedepankan nalar logis dengan capaian capaian standar yang sederhana serta terjebak pada pengukuran-pengukuran kuantitatif.

Lebih dari itu, sebenarnya pendidikan bukan soal peserta didik dapat meraih nilai matematika secara sempurna, namun yang lebih penting lagi mereka mampu menerapkannya dalam proses kehidupan nyata.

Ada matematika kualitatif yang semestinya diajarkan, yakni bagaimana berbagi, menambah, mengurang, maupun mengali dalam konteks interaksi sosial.

Jika pengembangan ini dimulai dari desain dan rancangan Capaian Pembelajaran Umum (CPU) dan Capaian Pembalajaran Khusus (CPK) dengan serius dan maksimal.

Maka nalar yang hidup dalam diri peserta didik kita tidak hanya nalar logis semata.

Tetapi mereka sudah memiliki paradigma shift yang kuat dan bakal mampu menghidupkan nalar wahyu yang menyentuh rasa dengan cakupan jelajah pengetahuan tanpa batas.

Serta meretas jangkauan sain dan filsafat, hingga tidak ada lagi kemustahilan yang mutlak.

Konsep ini dapat disebut dengan istilah membangun universitas kehidupan dengan konsep tujuh dimensi (UK7D).

Jika ditilik kembali dengan menggunakan perangkat analisis, sintesis, dan evaluasi maka dapat tarik benang merahnya bahwa di dalam surah dan ayat-ayat Al-Quran sarat akan cara, strategi.

Petunjuk dan teknik pencapaian segala aspek dalam praktik memenuhi kehidupan di dunia bahkan akherat kelak.

Untuk memulainya, tentu peran Fakultas Pendidikan (Tarbiyah) di Perguruan Tinggi sangat vital.

Terutama dalam menata kurikulum berbasis UK7D untuk melahirkan calon tenaga pendidik yang paham akan makna dan hakekat hidup sehingga nanti setelah menjadi guru,

mereka mengarahkan peserta didiknya agar mampu menjadi pribadi yang berkesadaran sejati; takwa, aktif, keratif, inovatif, kontributif, dan berakhlak mulia.

Semoga dapat dirumuskan dan menjadi panduan dalam memproses hidup untuk berkehidupan dan mampu membangkitkan kembali nalar wahyu dengan maksimal agar tertutup pintu kebobrokan moral dan akhlak manusia saat ini hingga ke depannya.

Sumber: TribunGayo
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved