Selasa, 2 Juni 2026

Berita Aceh Tengah

Penyair Berkunjung ke Linge Mungoro, Ziarah, dan Baca Puisi

Para penyair ini berasal dari Jakarta, Riau, Sumatera Barat, Bekasi, Lhokseumawe dan Aceh Tengah-Bener Meriah.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Sri Widya Rahma
Foto IST
Upacara Tepung Tawar di Buntul Linge diikuti Penyair Desember Kopi Gayo 

Apa itu mungoro? Ialah membajak sawah. Begitulah masyarakat Kampung Linge mempersiapkan lahannya untuk ditanami padi.

Kedatangan para penyair ini bertepatan dengan persiapan turun ke sawah. Salah satu persiapannya  membajak tanah sebelum nanti menanam padi atau munomang.

Budaya mungoro masih dilakukan di Linge. Membajak sawah menggunakan tenaga kerbau. Ini peristiwa menarik di era digital.

Teriakan-teriakan khas sang pengarah kerbau terdengar bagai musik. Dilengkapi lecutan atau "senawat" terbuat dari rotan membuat pemandangan menjadi sebuah atraksi.

Ini era traktor. Di banyak tempat, tenaga mesin mendominasi. Tapi di Linge tidak. Traktor memang sudah masuk, tapi "mungoro " masih tetap dipertahankan.

"Tanahnya lebih halus. Berbeda jika dengan traktor. Hanya memang waktunya lebih lama," cerita Reje Zainuddin SL tentang keunggulan mungoro.

Ismanadi menjelaskan praktik mungoro ini sebagai bagian penting dari persiapan lahan.

Ada beberapa tahapan membajak sawah. Linge adalah penghasil hewan kerbau terpenting di Aceh Tengah. Linge adalah kawasan penggembalaan kerbau.

Hari menjelang pukul 10.00 WIB. Kawanan kerbau mendadak meninggalkan arena ngoro tadi.

Dan terus menyingkir meski berulangkali dihalau kembali ke area sawah. Kawanan kerbau itu akhirnya bubar dan kegiatan ngoro juga selesai pada pagi itu.

"Ngoro biasanya dilakukan pagi-pagi sekali sampai menjelang matahari meninggi. Sebab kerbau akan merasa kepanasan" kata Ismanadi.

Bagi para penyair itu adalah peristiwa hebat. Budaya ngoro sudah lama tidak terlihat. Beruntung mereka ke Linge menyaksikan peristiwa ini.

Masih di area sawah, ibu-ibunya Kampung Linge menyuguhkan jengo berupa ketan kuning dan kopi panas.

Semuanya dinikmati di tepi sawah. Perut yang sejak pagi belum terisi nasi, digantikan dengan ketan. Mengenyangkan.

Para penyair lalu mengisinya pula dengan baca puisi spontan di areal ini. Penyair Gayo Salman Yoga mulai memanggil satu persatu para penyair baca puisi.

Sumber: TribunGayo
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved