Selasa, 2 Juni 2026

Berita Aceh Tengah

Penyair Berkunjung ke Linge Mungoro, Ziarah, dan Baca Puisi

Para penyair ini berasal dari Jakarta, Riau, Sumatera Barat, Bekasi, Lhokseumawe dan Aceh Tengah-Bener Meriah.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Sri Widya Rahma
Foto IST
Upacara Tepung Tawar di Buntul Linge diikuti Penyair Desember Kopi Gayo 

Ada yang sambil memegang senawat atau cemeti tadi, ada pula yang berdiri di kerumunan warga. Semuanya tampak menikmati.

Lalu Reje Zainuddin SL mengajak rombongan ke komplek makam Reje Linge, ziarah.

Tiba di sebuah sungai. Peserta melepas sepatu. Ada jembatan kecil, tapi rusak parah dan tak bisa dilalui. Semua peserta akhirnya menyebrangi sungai secara hati-hati.

Letak makam di sebuah bukit. Lumayan Tinggi. Ada tangga terbuat dari semen kasar, menuju ke sana. Tapi tangga ini sedikit licin terutama musim hujan.

Perjalanan perlahan. Satu-satu rombongan menanjak hati-hati. Tiba di puncak, batu-batu nisan menyembuk dari banyak tempat.

"Ini adalah lokasi kuburan," kata Reje Zainuddin menerangkan.

Makam Reje Linge berbeda dengan makam lain. Nisannya khas. Dilengkapi kaligrafi bertuliskan  kalimat tauhid Lailahailallah. Ada beberapa nisan di bagian ini.

Belum diketahui dari era mana nisan ini berasal. Rasanya tim ekeologi perlu meneliti lebih lanjut, kalu perlu bahkan melakukan uji karbon untuk mengetahui usia nisan.

Di tempat ini, rombongan penyair bersila dan berdoa.

Tak lama kemudian, rombongan meninggalkan kompleks makam bersejarah itu. Menuju  Buntul Linge, sebuah bukit lain tidak jauh dari makam.

Di sini terdapat dua rumah adat Gayo. Satu posisi Timur barat satunya lagi Utara -Selatan belum jelas apa maknanya.

Di bawah rumah piyu ruang ini sudah berkumpul warga dan bersiap dilakukan upacara tepung tawar. Ini bentuk sambutan istimewa.

Upacara tradisional Tepung Tawar bersama-sama dengan Reje Kampung Linge dan Kepala Dinas Pariwisata Aceh Tengah, Zulkarnain.

Reje Kampung Linge dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya atas penyelenggaraan Desember Kopi Gayo di wilayahnya.

“Tradisi dan budaya kita harus terus dilestarikan. Kehadiran para penyair dari berbagai daerah membawa semangat baru untuk mempromosikan Linge sebagai bagian penting dari identitas budaya Gayo,” ungkapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Aceh Tengah, menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempromosikan pariwisata berbasis budaya di Aceh Tengah.

“Acara seperti ini tidak hanya memperkenalkan kekayaan tradisi Gayo kepada masyarakat luas, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang unik bagi Aceh Tengah,” ujarnya.

Pertunjukan didong dari grup Linge Aseli menjadi penutup yang memukau, menyajikan karya-karya yang menggambarkan kehidupan masyarakat Gayo, selaras dengan tema besar Desember Kopi Gayo tahun ini.

Para penyair juga membacakan puisi. Penyelenggaraan Desember Kopi Gayo di Linge menjadi bukti nyata komitmen untuk merawat tradisi dan mendorong kolaborasi antara seni, budaya, dan pariwisata di Tanah Gayo.

Selepas makan siang dan shalat Zuhur, rombongan penyair kembali ke Takengon. Melanjutkan agenda Desember Kopi. (*)

Baca juga: Kemenpan RB Ungkap PPPK Paruh Waktu jadi Langkah Akhir Penataan Non-ASN Sesuai UU ASN 2023

Baca juga: Salam Perpisahan: Junaidi Arif/Roy King Hormati Ahsan/Hendra di Indonesia Masters 2025

Baca juga: Marc Marquez Ingatkan Ducati untuk Tidak Remehkan Rival di MotoGP 2025

Sumber: TribunGayo
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved