Sabtu, 6 Juni 2026

Berita Aceh Tengah

Kopi Gayo dan Peran yang Bisa Dimainkan Program ESG Perbankan

Di pasar internasional kopi ini dikenal dengan berbagai nama seperti Gayo Mountain Coffee, Mandheling Gayo, Sumatra Gayo, dan Sumatra Mandheling.

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Sri Widya Rahma
ISTIMEWA
KOPI GAYO - Puisi berjudul "Kopi Pagi Kopi Gayo" diciptakan oleh Fikar W Eda pada tahun 2013. Kopi Gayo menyumbang lebih dari 50 persen dari total ekspor kopi arabika Indonesia, dengan nilai Rp 690 miliar. 

TRIBUNGAYO.COM, ACEH TENGAH - Matahari pucat dalam segelas kopi, dicampur setengah sendok bintang temaram, Sisa tadi malam.

Diaduk dengan tangkai bulan sabit, diseduh dalam panas air matamu.
Kuseruput lagi pagi ini, tetes demi tetes perih petani di kafe pencakar langit.

Di Gayo, kopi adalah napas kehidupan.
Dituang dalam cangkir harapan.
Kopi juga nafas cinta.
Diminum penuh gelora dari bibir cakrawala.

Ayo seduh kopi,
Kita teguk dunia.

(Fikar W Eda, 2013).

Puisi ini berjudul "Kopi Pagi Kopi Gayo" menyiratkan ekspresi betapa dekatnya hubungan kopi dengan masyarakat Gayo, yang mendiami Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Dua Kabupaten penghasil utama kopi arabika berlabel Kopi Gayo.

Dengan luas lahan mencapai 106 ribu hektare, kopi bukan sekadar komoditas, melainkan warisan hidup yang menghidupi ribuan keluarga.

Kopi Gayo telah mendapatkan tempat istimewa di lidah para penikmat kopi, baik di dalam maupun luar negeri.

Keunggulannya sebagai kopi organik yang dibudidayakan secara alami, tanpa pupuk kimiawi, menjadikannya pilihan utama bagi mereka yang mencari cita rasa terbaik.

Letak geografis Tanah Gayo yang berada di gugus Bukit Barisan menjadikannya tempat ideal untuk perkebunan kopi.

Dengan ketinggian 900 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut dan curah hujan rata-rata 1.643 mm per tahun.

Kondisi ini menciptakan lingkungan sempurna bagi pertumbuhan kopi berkualitas tinggi.

Pada tahun 2006/2007 saja, ekspor kopi arabika dari Pelabuhan Belawan, Medan, mencapai 48.637 ton dengan nilai USD 150,4 juta.

Kopi Gayo menyumbang lebih dari 50 persen dari total ekspor kopi arabika Indonesia, dengan nilai Rp 690 miliar.

Di pasar internasional kopi ini dikenal dengan berbagai nama seperti Gayo Mountain Coffee, Mandheling Gayo, Sumatra Gayo, dan Sumatra Mandheling.

Pada tahun 2016, devisa dari kopi Gayo mencapai Rp 5 triliun.

Melebihi Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Tengah yang hanya Rp 1,2 triliun.

Saat itu Bupati Aceh Tengah Ir Nasaruddin MM, menyebut bahwa kopi arabika Gayo telah diekspor ke 17 negara di seluruh benua.

Dengan Amerika Serikat sebagai konsumen terbesar.

Bagi masyarakat Gayo, kopi adalah napas kehidupan.

Dari biji kopi, mereka hidup dan menyambung hidup.

Dari kopi, mereka menyekolahkan anak-anak hingga perguruan tinggi.

Dari kopi pula, mereka menikah dan naik haji.

Kopi adalah harta karun, zamrud khatulistiwa yang dirawat dengan sepenuh hati.

Hamparan perkebunan kopi rakyat menyelimuti bukit dan lembah Tanah Gayo, membentuk lanskap hijau yang memesona.

Gunung berapi Burni Telong menjulang dengan permadani hijau di kakinya, hamparan perkebunan kopi yang dilindungi oleh pepohonan lamtoro.

Keindahan ini semakin lengkap dengan pantulan hijau kebiruan Danau Lut Tawar di kejauhan.

Dari biji kopi yang dijuluki zamrud khatulistiwa inilah, masyarakat Gayo mengarungi masa depan.

Bukan hanya masa depan kopi semata, tetapi juga masa depan ekosistem yang menopangnya.

Kelestarian alam Tanah Gayo sangat menentukan kualitas kopi Gayo, yang memiliki skor tertinggi untuk aroma dan cita rasa.

Namun, kopi Gayo tidak berdiri sendiri, ia ditopang oleh lingkungan yang ideal, suhu udara, kelembaban, curah hujan, serta kemurnian unsur hara tanah.

Semua faktor ini berperan dalam mempertahankan kualitas kopi Gayo.

Meski demikian, masih banyak tantangan yang harus dihadapi.

Industri hilir berbasis kopi di Tanah Gayo belum berkembang secara optimal.

Padahal, peluang usaha berbasis kopi sangat terbuka lebar seperti produksi permen kopi, parfum, kosmetik berbahan kopi, sauna kopi, hingga pariwisata berbasis kopi.

Produktivitas perkebunan juga masih perlu ditingkatkan.

Saat ini rata-rata produksi kopi Gayo hanya sekitar 750 kg per hektare per tahun, padahal potensinya bisa mencapai 1-2 ton per hektare.

Satu hal yang paling utama adalah menjaga brand kopi Gayo sebagai kopi organik.

Pemerintah, wakil rakyat, petani, dan seluruh pemangku kepentingan harus memberikan perhatian penuh dalam mempertahankan keunggulan ini termasuk sektor perbankan.

Lantas Apa Peran ESG dalam Kelestarian Kopi Gayo?

Pendekatan Environmental, Social, and Governance (ESG) yang mulai berkembang di sektor perbankan dapat memberikan dukungan besar bagi kelestarian dan keberlanjutan produksi kopi Gayo. 

Aspek Kelestarian Lingkungan

Salah satu contoh implementasi ESG adalah inovasi pengolahan limbah kopi.

Institusi keuangan, seperti Bank Mandiri, dapat mendukung program daur ulang limbah kulit kopi menjadi pupuk organik atau produk bernilai ekonomi lainnya.

Langkah ini tidak hanya menciptakan peluang usaha baru bagi petani, tetapi juga mengurangi dampak lingkungan dari limbah kopi.

Selain itu, perbankan dapat mengembangkan program pelatihan pertanian berkelanjutan.

Termasuk distribusi bibit pohon kopi untuk mendukung reboisasi dan keberlanjutan perkebunan.

Aspek Pemberdayaan Sosial

Dari sisi sosial, program ESG perbankan berfokus pada peningkatan kapasitas dan kesejahteraan petani kopi Gayo.

Salah satu bentuknya adalah pemberian kredit usaha bagi pengusaha kopi skala menengah yang sering kali terkendala modal.

Dukungan lain yang sangat dibutuhkan adalah penyediaan lantai jemur hidrolik untuk pengeringan pasca panen.

Dengan curah hujan tinggi banyak petani dan pengusaha kopi masih mengandalkan lantai jemur tradisional, yang tidak optimal saat hujan turun.

Solusi ini akan membantu meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi kopi Gayo.

Selain itu, pelatihan bagi petani untuk beradaptasi dengan regulasi pasar global juga menjadi kebutuhan mendesak.

Dengan demikian kopi Gayo dapat terus menembus pasar internasional tanpa kendala.

Selanjutnya, perbankan bisa menyediakan dukungan modal kepada para penyelenggara event seperti Desember Kopi Gayo yang sudah diselenggarakan sejak 2016.

Event budaya dalam rangka mengisi panen raya kopi adalah bentuk usaha menciptakan peluang usaha baru dalam bisnis pariwisata dan pengembangan seni budaya.

Para seniman dan insan-insan kreatif memperoleh ruang ekspresi dalam event Desember Kopi dengan mengolah pertunjukan berbasis kopi dalam bentuk karya tari, musik, sastra dan sebagainya.

Sehingga para wisatawan juga memperoleh "asupan seni" pada saat mengunjungi Tanah Gayo, sehingga selain menikmati kopi juga dimanjakan dengan seni kopi.

Kedatangan wisatawan ini menciptakan efek domino luar biasa bagi sektor lainnya.

Aspek Tata Kelola

Dalam aspek tata kelola, bank dapat menerapkan prinsip ESG dalam penilaian pembiayaan bagi korporasi dan petani kopi.

Ini mencakup evaluasi risiko lingkungan, persyaratan khusus terkait praktik keberlanjutan.

Hingga suku bunga pinjaman yang disesuaikan dengan tingkat kepatuhan terhadap standar ESG.

Pendekatan ini akan mendorong praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan dalam rantai pasok kopi Gayo.

Secara keseluruhan, implementasi ESG di sektor perbankan akan berkontribusi signifikan terhadap kelestarian kopi Gayo.

Melalui dukungan finansial, pelatihan, dan pengembangan kapasitas, perbankan dapat membantu memastikan bahwa kopi Gayo tetap berkelanjutan, kompetitif di pasar global, serta memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat Gayo.

Kopi Gayo bukan sekadar minuman, ia adalah identitas, budaya, dan warisan yang harus dijaga dari generasi ke generasi. (*)

Baca juga: Tim Kepelatihan Anyar Timnas Indonesia Pantau Langsung Liga 1 di Stadion Patriot

Baca juga: Dua Oknum Polisi di Semarang Ditangkap Usai Memeras Pasangan Sejoli Hingga Ancam Warga

Baca juga: Jadwal Liga Voli Korea: Red Sparks Hanya Tanding Sekali Pekan Ini

 


 
 

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved