Kupi Senye
Kebersihan Hati dan Integrasi dengan Alam, Kunci Kesadaran Kebaikan
Ini menunjukkan bahwa kebersihan hati berpengaruh langsung terhadap sikap manusia terhadap lingkungannya.
Oleh: Dr Joni MPd BI *)
”Baik Hati maka Baiklah semua -Kotor Hati maka Rusaklah semua”
Masalah kebersihan hati dan harmoni dengan alam semakin mendesak untuk dibahas.
Berbagai isu lingkungan, seperti kerusakan ekosistem, polusi, dan degradasi lingkungan, mencerminkan kelalaian masyarakat terhadap nilai-nilai ekologis.
Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, luas kebakaran hutan di Indonesia mencapai 800.000 hektar pada 2023.
Menyebabkan kerusakan habitat dan peningkatan emisi karbon (KLHK, 2023).
Selain itu, deforestasi untuk pertanian dan perkebunan sawit memperburuk krisis lingkungan.
Di Aceh Tengah, permasalahan sampah menjadi isu serius, terutama di Danau Lut Tawar, Kota Takengon, dan kawasan wisata seperti Pantan Terong.
Sampah plastik dan limbah rumah tangga mencemari lingkungan, merusak estetika, serta mengancam ekosistem.
Kota Banda Aceh sendiri menghasilkan 230 ton sampah per hari, yang sebagian besar berasal dari rumah tangga (antaranews.com).
Sikap apatis masyarakat menjadi faktor utama permasalahan ini.
Kurangnya kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan menyebabkan praktik pembuangan sampah sembarangan dan minimnya dukungan terhadap pelestarian alam (liputan6.com).
Kerusakan lingkungan berkaitan erat dengan moralitas manusia.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging; jika baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan jika rusak, maka rusaklah semuanya" (HR. Bukhari dan Muslim).
Ini menunjukkan bahwa kebersihan hati berpengaruh langsung terhadap sikap manusia terhadap lingkungannya.
Kasus Perusakan Lingkungan
- Kabupaten Aceh Tengah: Penutupan daerah resapan air untuk pembangunan telah menyebabkan banjir yang meluas. Penebangan liar di kawasan Pantan Geloah dan Gunung Ujen mengakibatkan kerusakan 500 hektar hutan lindung (KLHK, 2022). Dampak dari tindakan ini adalah peningkatan risiko banjir dan kerusakan ekosistem.
- Kabupaten Bener Meriah: Terjadi perusakan hutan akibat penebangan liar yang dilakukan untuk kepentingan pribadi, yang mengakibatkan hilangnya biodiversitas (Mongabay, 2020). Dampak dari perusakan ini, parit-parit dan danau lut Tawar terdapat banjir sampah dan limbah rumah tangga masuk ke danau tersebut, hal ini menjunjukan kerusakan ekosistem yang berujung pada hilangnya spesies flora dan fauna.
- Kabupaten Aceh Tenggara: Aktivitas penebangan kayu dan pembukaan lahan untuk perkebunan sawit menyebabkan kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati (KLHK, 2020). Dampak yang ditimbulkan adalah kerusakan habitat dan penurunan kualitas lingkungan.
- Kabupaten Gayo Lues: Perusakan hutan lindung di kawasan Gunung Leuser juga terjadi, yang berdampak pada kerusakan ekosistem dan hilangnya biodiversitas (WWF, 2020). Dampak dari perusakan ini adalah meningkatnya risiko bencana alam seperti tanah longsor.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Dosen-Dr-Joni-M-Pd-BI.jpg)