Senin, 8 Juni 2026

Ramadhan 2025

Ramadan dan Transisi Energi: Muhammadiyah Dorong Kemandirian Energi Berkelanjutan

Ramadan bukan hanya momen spiritual bagi umat Islam, tetapi juga kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai keberlanjutan.

Tayang:
Editor: Malikul Saleh
Generated by AI
RAMADHAN - Foto ilustrasi ini dibuat menggunakan kecerdasan (META AI) pada Kamis (13/2/2025). Ramadan bukan hanya momen spiritual bagi umat Islam, tetapi juga kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai keberlanjutan. 

TRIBUNGAYO.COM - Ramadan bukan hanya momen spiritual bagi umat Islam, tetapi juga kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai keberlanjutan, termasuk dalam transisi menuju energi terbarukan.

Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah sekaligus Direktur Eksekutif Muhammadiyah Climate Center, Agus S Djamil, menekankan pentingnya kemandirian energi bagi Indonesia.

"Saya merasa bahagia karena transisi energi kini menjadi isu yang diperbincangkan tidak hanya dalam lingkup akademik, tetapi juga dalam konteks agama. 

Kita perlu segera mewujudkan kemandirian energi, mengingat saat ini sebagian besar energi kita masih bergantung pada impor," ujar Agus dalam keterangannya, Kamis (20/2/2025).

Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi bertajuk Cahaya Ramadan: Menjalani Ibadah Energi dengan Energi Berkelanjutan, yang diselenggarakan oleh Suara Muhammadiyah, Greenfaith Indonesia, MOSAIC, 1000 Cahaya, dan Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah.

Agus juga menekankan pentingnya mewujudkan kemandirian energi menggunakan sumber energi terbarukan yang melimpah. 

Beberapa contoh yang disebutkan adalah memanfaatkan sungai untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA), serta potensi panas bumi dan energi laut. 

Ia menambahkan bahwa sumber energi berkelanjutan juga harus mempertimbangkan biaya Levelized Cost of Electricity (LCOE) yang rendah dan pengembalian investasi energi yang optimal. 

"Indonesia dianugerahi Tuhan dengan kekayaan energi, mulai energi air, panas bumi, laut, matahari, hingga angin," katanya. 

Dalam acara ini, juga disosialisasikan Buku Fikih Transisi Energi Berkeadilan, yang telah melalui proses penulisan inklusif dari tahap diskusi hingga penulisan, melibatkan masyarakat yang terdampak. 

Buku ini diharapkan dapat menjadi landasan kerja bersama umat Islam dalam mendukung ambisi transisi energi Indonesia. 

Qaem Aulassyahied dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, yang juga salah satu penulis buku tersebut, menekankan adanya disparitas ekonomi dalam energi

Sehingga penggunaan dan pemanfaatan sumber daya menjadi tidak seimbang. 

Menurutnya, salah satu persoalan penting adalah kepemilikan dan bagaimana kita mengatur penggunaannya untuk kesejahteraan bersama. 

"Keserakahan dan kejahatan struktural dapat merusak sistem perekonomian, termasuk energi. Maka wujud konservasi energi yang bisa kita lakukan yaitu melakukan penghematan energi dan mengupayakan pencarian energi alternatif,” ungkap Qaem. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved