Minggu, 19 April 2026

Ramadhan 2025

Penetapan 1 Ramadhan 2025: Muhammadiyah 1 Maret, Kemenag Gelar Sidang Isbat

Penentuan awal Ramadhan 2025 di Indonesia berpotensi berbeda antara pemerintah dan beberapa organisasi Islam. 

Editor: Malikul Saleh
TribunGayo.com/Malikul Saleh
AWAL RAMADHAN 2025 - Masjid Al Munawwarah di Desa Uning, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah. Penentuan awal Ramadhan 2025 di Indonesia berpotensi berbeda antara pemerintah dan beberapa organisasi Islam.  

TRIBUNGAYO.COM -  Penentuan awal Ramadhan 2025 di Indonesia berpotensi berbeda antara pemerintah dan beberapa organisasi Islam. 

Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1446 Hijriah jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025, berdasarkan metode hisab atau perhitungan astronomi.

Sementara itu, Kementerian Agama (Kemenag) RI belum mengumumkan secara resmi kapan awal puasa akan dimulai. 

Pemerintah akan menetapkannya melalui Sidang Isbat yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 28 Februari 2025. 

Sidang yang dijadwalkan dipimpin oleh Menteri Agama RI Nasaruddin Umar ini akan menentukan tanggal pasti dimulainya bulan puasa bagi umat Muslim di Indonesia. 

Berikut ini alasan perbedaan penentuan awal ramadhan 2025.

BRIN Sebut Potensi Beda Penentuan Awal Ramadhan 2025

Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, mengungkapkan bahwa awal Ramadhan 2025 berpotensi mengalami perbedaan.

Berdasarkan hasil rukyat, awal Ramadhan 2025 diperkirakan jatuh pada 2 Maret 2025.

Sementara itu, Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1446 Hijriah jatuh pada 1 Maret 2025 berdasarkan metode hisab. 

"Ada potensi perbedaan penetapan awal Ramadhan tahun ini," ujar Thomas, Senin (24/2/2025).

Posisi Hilal dan Kriteria MABIMS

Menurut Thomas, posisi Bulan pada 28 Februari 2025 malam diperkirakan berada pada ketinggian 4,5 derajat dengan elongasi 6,4 derajat di Banda Aceh.

Posisi ini sedikit di atas kriteria yang ditetapkan oleh Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yang menetapkan bahwa hilal dianggap terlihat jika ketinggiannya minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat.

Namun, di Surabaya, posisi Bulan hanya mencapai ketinggian 3,7 derajat dengan elongasi 5,8 derajat, yang masih berada di bawah batas kriteria MABIMS.

"Posisi Bulan yang terlalu dekat dengan Matahari dan ketinggiannya masih cukup rendah menunjukkan bahwa hilal sulit diamati," jelas Thomas. Dengan kondisi tersebut, Thomas menduga kemungkinan besar akan terjadi gagal rukyat dalam Sidang Isbat Kemenag.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved