Jumat, 5 Juni 2026

Kupi Senye

Selamat Datang Ramadhan

Dimana seseorang betul-betul menyadari akan hakikat kehidupan, untuk apa dia diciptakan, dari mana dia datang dan ke mana dia akan kembali.

Tayang:
ISTIMEWA
OPINI TRIBUNGAYO- Dr Johansyah MA merupakan Dosen STIT Al-Washliyah Aceh Tengah. Johansyah menuliskan opini terkait Selamat Datang Ramadhan, Jumat (28/2/2025). 

Oleh: Dr Johansyah MA *)

Menurut kalender hijriyah, tanggal 1 Ramadhan akan jatuh pada 1 Maret 2025.

Berarti selama sebulan ke depan kita akan melaksanakan kembali salah satu rukun Islam, yakni puasa Ramadhan.

Semoga kita diberikan kesehatan dan kelapangan sehingga dapat menjalani bulan suci ini dengan penuh khidmat.

Banyak di antara keluarga, kolega, maupun tetangga kita yang tidak bisa lagi menjalankan ibadah ini kerena sudah kembali ke hadirat-Nya.

Umat Islam patut bergembira karena masih diberikan kesempatan untuk melaksanakan ibadah puasa pada tahun ini.

Kita harus mengucapkan marhaban ya Ramadhan dengan penuh suka cita. Ada berbagai alasan yang perlu diketahui mengapa kita harus gembira menyambutnya. 

Pertama, ibadah puasa yang diwajibkan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang beriman (QS. Al-Baqarah: 183) merupakan wujud kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya.

Allah SWT senantiasa menginginkan yang terbaik untuk hamba-Nya. Sekilas memang terkesan menjadi beban ketika ibadah ini diwajibkan.

Tapi seseorang akan menyadari betapa banyak manfaat yang diperoleh dari ibadah ini setelah dia menjalaninya.

Tentu saja, karena tidak ada sebuah ibadah yang diwajibkan oleh Allah SWT kecuali itu pasti mendatangkan kemaslahatan bagi orang yang melaksanakannya.

Puasa Ramadhan merupakan salah satu cara Allah SWT untuk memanusiakan manusia.

Sebab begitu banyak manusia yang hidup di muka bumi ini tidak serius menjalani kehidupan.

Banyak sikap dan perilaku mereka yang pada hakikatnya tidak mencerminkan diri sebagai manusia.

Karena itu, dalam Ramadhan ini dia dilatih untuk mampu membangun kesadaran diri bahwa sesungguhnya dia adalah manusia yang harus manusiawi dalam berkata, bersikap, dan berbuat.

Tujuan akhir yang dikehendaki oleh Allah SWT dari orang-orang yang berpuasa adalah agar mereka mencapai takwa.

Muhammad Asad dalam tafsirnya The Message Of Qur’an, mengatakan bahwa makna takwa adalah kesadaran diri.

Dimana seseorang betul-betul menyadari akan hakikat kehidupan, untuk apa dia diciptakan, dari mana dia datang dan ke mana dia akan kembali.

Kesadaran inilah yang akan menuntunnya untuk tetap berhati-hati dalam setiap langkah kehidupan.

Dia ingin selalu mencari ridha Allah SWT dan menjauhi murka-Nya. Inilah yang disebut dengan takwa.

Bulan Diturunkannya Alqur’an

Kedua, bulan Ramadhan adalah bulan di mana alqur’an diturunkan (QS. Al-Baqarah: 185).

Kita patut bergembira karena alqur’an diturunkan sebagai pedoman hidup bagi manusia dalam seluruh aspek kehidupan.

Orang-orang yang memandang dunia sebagai puncak kehidupan, mungkin akan menganggap harta, tahta, dan wanita menjadi sesuatu yang paling berharga.

Tapi orang-orang yang beriman meyakini bahwa hal yang tidak ternilai harganya adalah alqur’an sebagai pedoman hidup untuk mencapai kesuksesan di dunia dan akhirat.

Betapa banyak orang yang gelap di tengah kelap-kelip lampu kehidupan yang menyala.

Demikian juga di tengah keramaian kota, nyatanya banyak orang yang tersesat.

Penyebabnya karena mereka menutup hatinya dari kebenaran yang diturunkan oleh Allah SWT.

Maka sebagai orang yang beriman yang memedomani alqur’an, sejatinya kita mensyukuri nikmat ini, yakni dengan terus berupaya menjadikan alqur’an sebagai pedoman hidup yang hakiki.

Kegembiraan ini sejatinya kita sikapi dengan memperbanyak interaksi bersama alqur’an.

Di bulan Ramadhan nanti mungkin masing-masing kita harus menargetkan khatam alqur’an minimal satu kali, bahkan mungkin beberapa kali.

Terpenting lagi adalah berusaha memahami dan menyelami makna yang terkandung di dalamnya sehingga pada akhirnya berusaha mewujudkannya dalam kehidupan sehari hari.

Hal ini juga patut menjadi bahan evaluasi umat Islam di setiap kali tiba bulan Ramadhan.

Di mana kebanyakan hanya sampai pada aktivitas mengkhatamkan alqur’an saja. Padahal yang lebih substansial itu adalah menyelami makna-makna dan pesan yang disampaikannya.

Dengan kata lain, di bulan Ramadhan tahun ini, sebenarnya kita tidak sekedar banyak mengaji, tapi juga banyak mengkaji dan menggali pesan-pesan tersurat maupun tersirat dari alqur’an.

Ketiga, bulan Ramadhan adalah kesempatan membangun tradisi Islami. Hanya di bulan inilah seseorang bisa maksimal usaha dalam meningkatkan daya spiritualitasnya.

Berbeda dari biasanya, banyak tantangan yang dihadapi seseorang ketika berusaha membangun tradisi Islami. Begitu sulit menjaga sikap dan perilaku karena merasa tidak diawasi.

Namun ketika di bulan Ramadhan, perasaan diawasi tersebut muncul dalam diri setiap orang yang berpuasa sehingga membuatnya berusaha menahan diri dari hal-hal yang dapat mengurangi nilai puasa.

Seiring waktu, karakter-karakter Islami itu akan tumbuh pelan-pelan dalam jiwa seseorang.

Hati yang sebelumnya seperti tanah yang gersang, lambat laun menjadi subur karena selalu disirami dengan zikir.

Permohonan ampun kepada Allah SWT, banyak membaca alqur’an, menghindari berkata kotor, dan kebiasaan positif lainnya. 

Puasa sama dengan usaha menanam tanaman dan merawatnya dengan maksimal, sehingga menghasilkan banyak buah dan rasanya nikmat.

Sudah Banyak Orang Pintar

Hari ini kita sudah banyak orang pintar, dan berpendidikan tinggi dengan sederet gelar di depan dan belakang namanya, tapi kita kekurangan orang yang berakhlak mulia.

Kondisinya mungkin persis sama seperti era jahiliyah dulu. Mereka bukan bodoh, tapi tidak beradab.

Aturan yang mereka buat harus sesuai dengan apa yang dikehendakinya, yang penting dapat mendatangkan keuntungan bagi dirinya.

Untuk itu, kehadiran Ramadhan ini jelas menjadi wahana pendidikan dan latihan spiritual yang sangat baik dalam menata diri seseorang. 

Bagi mereka yang sebelumnya kurang tertarik ke masjid akhirnya terpanggil untuk pergi ke sana untuk shalat tarawih berjama’ah.

Demikian halnya mereka yang sebelumnya jarang menyentuh alqur’an, tergerak hatinya untuk mengaji, kalau pun belum sampai pada tahap mengkaji, dan seterusnya.

Harapan dari pelatihan di bulan Ramadhan ini berupa pembiasaan dengan hal-hal positif pada akhirnya menjadi tradisi.

Setelah Ramadhan berlalu, apa yang dilakukan di bulan Ramadhan ini dapat dipertahankan dan terus dilanjutkan pada bulan-bulan berikutnya.

Memang istiqamah dalam kebaikan itu bukanlah perkara mudah.

Karena itulah mengapa Allah SWT mewajibkan ibadah puasa setiap tahun di bulan Ramadhan? Agar kondisi keimanan seseorang tetap stabil.

Kita diharapkan tidak hanya terjebak pada kegembiraan yang simbolik belaka, seperti memasak daging di waktu meugang dan menikmatinya.

Bukan pula sebatas rasa gembira sebagaimana para pedagang yang menganggap Ramadhan sebagai bulan berkah karena mendapat keuntungan dari jualannya.

Lebih dari itu, kegembiraan kita sejatinya didasarkan pada kesadaran bahwa Allah SWT masih memberikan kesempatan kepada kita untuk berbenah meningkatkan kualitas kehambaan kita menjadi pengabdi sejati.

Wallahu a’lam Bisahwab!

*) Penulis adalah Dosen STIT Al-Washliyah Aceh Tengah.

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved