Kupi Senye
Ramadhan Hampir Usai Akankah Kita Merindukannya
Kesedihan ini bukan tanpa alasan Ramadhan adalah bulan dimana kita merasakan kedekatan yang lebih intens dengan Allah SWT.
Oleh: Tazkir SPd MPd *)
Ramadhan selalu datang membawa kebahagiaan, tetapi kepergiannya meninggalkan kesedihan.
Tanpa terasa bulan yang penuh berkah ini tinggal menghitung hari sebelum meninggalkan kita.
Hati terasa pilu dan sedih membayangkan suasana yang begitu syahdu akan segera berakhir.
Kesedihan ini bukan tanpa alasan Ramadhan adalah bulan dimana kita merasakan kedekatan yang lebih intens dengan Allah SWT.
Suara seruan adzan Magrib saat berkumpulnya keluarga yang dinantikan sebagai tanda berbuka puasa akan segera hilang dari rutinitas harian.
Tidak akan terdengar lagi riuh rendah suara anak-anak yang berlarian ke masjid untuk berbuka bersama atau menikmati hidangan takjil selalu ada di setiap sudut jalan.
Tak hanya itu kebersamaan dalam berbuka puasa juga menjadi momen yang akan dirindukan.
Suasana berkumpul dengan keluarga dan sahabat dalam menyantap hidangan berbuka terasa begitu hangat dan penuh kebahagiaan.
Namun setelah Ramadhan pergi, masing-masing akan kembali disibukkan dengan aktivitas harian.
Shalat berjamaah di masjid selama sebulan menjadi kebiasaan, perlahan akan berkurang setelah Ramadhan berlalu.
Tarawih setiap malam mempertemukan kita dengan saudara-saudara seiman akan tinggal kenangan.
Alunan sendu tadarus Al-Qur’an yang menggema di setiap sudut masjid dan rumah-rumah akan semakin jarang terdengar.
Paling menyayat hati adalah tidak lagi terdengarnya suara sahur...sahur.
Jika sebelumnya kita terbiasa dibangunkan oleh suara bedug atau orang-orang yang berkeliling membangunkan sahur, setelah Ramadhan suasana dini hari akan kembali sunyi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Tazkir-SPd-MPd.jpg)