Kupi Senye
Apakah Siswa Sudah Siap Menghadapi Kembalinya Ujian Nasional?
Karena didukung bebera faktor seperti akses informasi dan teknologi siswa di kota umumnya lebih siap menghadapi UN secara teknis.
Oleh: Tazkir SPd MPd
Kurikulum Merdeka kini tengah dijalankan mengedepankan pembelajaran kontekstual, berdiferensiasi menekankan pada pembentukan karakter siswa dan evaluasi pun diarahkan pada asesmen formatif dan sumatif yang beragam .
Opini isu kembalinya Ujian Nasional setelah beberapa tahun ditiadakannya Ujian Nasional (UN) sebagai evaluasi pendidikan berskala nasional kembali mencuat.
Sebagian pihak menyambut baik karena dianggap sebagai alat ukur capaian pembelajaran secara objektif dan seragam.
Namun pertanyaan yang lebih mendasar timbul dibenak kita adalah apakah siswa Indonesia saat ini benar-benar sudah siap bila Ujian Nasional diberlakukan kembali?
Muncul kembali wacana bahwa ujian tersebut akan diberlakukan sebagai alat evaluasi capaian pendidikan secara nasional.
Wacana ini menuai pro dan kontra di kalangan pendidik, siswa, orang tua, hingga pembuat kebijakan.
Jawabannya harus siap! walau belum siap, walau tidak sesederhana dibayangkan disatu sisi sebagian siswa di kota besar dengan akses pendidikan fasilitas memadai mungkin merasa lebih siap.
Karena didukung bebera faktor seperti akses informasi dan teknologi siswa di kota umumnya lebih siap menghadapi UN secara teknis.
Mereka terbiasa menggunakan internet, mengikuti bimbingan belajar, dan mendapatkan latihan soal dari berbagai sumber.
Lingkungan kompetitif persaingan yang tinggi di kota membuat siswa lebih termotivasi sehingga mereka terbiasa dengan sistem pembelajaran berbasis teknologi, didukung guru-guru aktif, memiliki fasilitas belajar memadai.
Bahkan beberapa di antaranya telah terbiasa mengikuti try out, pelatihan intensif, dan pembelajaran mandiri berbasis digital.
Sehingga siswa di kota lebih siap secara teknis, sehingga banyak sekolah dan orang tua secara aktif mempersiapkan siswa menghadapi UN, mulai dari try out berkala hingga program belajar tambahan.
Namun di sisi lain bagaimana dengan siswa di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) masih menghadapi kesenjangan dalam hal akses pendidikan.
Guru terbatas, infrastruktur kurang memadai, bahkan buku dan perangkat belajar pun terbatas tidak selalu tersedia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/TAZKIR-PENULIS-OPINI-TRIBUNGAYO.jpg)