Kupi Senye
Menelusuri Sejarah Kebudayaan Gayo
Nama Gayo diyakini berasal dari kata pegayon yang berarti sumber air jernih tempat ikan suci dan kepiting, sesuai kepercayaan masyarakat setempat.
Oleh: Ridho Suhandri *)
Suku Gayo merupakan salah satu etnis pribumi yang mendiami dataran tinggi Gayo di Provinsi Aceh bagian tengah, dengan populasi sekitar 412.200 jiwa berdasarkan sensus 2020.
Wilayah tradisional mereka meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, serta beberapa daerah di Aceh Tenggara dan Aceh Timur.
Berdasarkan kajian arkeologis, suku Gayo termasuk etnis tertua di Nusantara, dengan bukti pemukiman manusia di dataran tinggi tersebut yang sudah ada sejak 3.580 hingga 4.400 tahun lalu, jauh sebelum suku Batak dan suku lain di Sumatera.
Mereka tergolong dalam ras Proto Melayu (Melayu Tua), yang diperkirakan bermigrasi dari India dan menetap di wilayah tersebut sekitar 2.000 tahun sebelum Masehi.
Nama Gayo diyakini berasal dari kata pegayon yang berarti sumber air jernih tempat ikan suci dan kepiting, sesuai kepercayaan masyarakat setempat.
Ada pula versi lain yang mengaitkan nama Gayo dengan kata dalam bahasa Karo yang berarti kepiting, merujuk pada cerita rakyat tentang rombongan pengembara yang menemukan kepiting di sumber mata air jernih.
Dalam literatur Melayu, nama Gayo juga dikaitkan dengan kata "ka yo" yang berarti takut, yang menggambarkan kelompok masyarakat yang melarikan diri dari pesisir Aceh ke dataran tinggi untuk menghindari Islamisasi pada masa lampau.
Sejarah kerajaan Gayo tercatat sejak abad ke-11 dengan berdirinya Kerajaan Linge pada masa pemerintahan Sultan Makhdum Johan berdaulat Mahmud Syah dari Kesultanan Perlak.
Raja Linge I memiliki empat anak, diantaranya Empu Beru (wanita tertua), Sebayak Lingga, Meurah Johan, dan Meurah Lingga.
Anak-anak raja ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah, mendirikan kerajaan kecil lainnya, serta memperluas pengaruh suku Gayo di Aceh dan sekitarnya.
Kerajaan Linge dan kerajaan-kerajaan lain ini menjadi pusat kekuasaan dan simbol kebesaran suku Gayo di masa lalu.
Masyarakat Gayo menganut sistem sosial patrilineal, di mana garis keturunan dan pewarisan nama mengikuti garis ayah.
Struktur sosial mereka terdiri dari keluarga inti yang disebut sara ine, beberapa keluarga inti membentuk sara dapur, dan beberapa sara dapur tinggal bersama dalam rumah panjang yang disebut sara umah.
Beberapa sara umah membentuk klan atau belah. Sistem perkawinan mereka bersifat eksogami, dan pasangan yang menikah biasanya menetap secara patrilokal (juelen) atau matrilokal (angkap).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/DANAU-LUT-TAWAR-ACEH-TENGAH.jpg)