Kamis, 30 April 2026

Berita Nasional Hari Ini

Bincang Maestro, Nasib Didong Antara Warisan, Waktu dan Ketidakpedulian

Didong, salah satu seni tradisi paling khas dari Tanah Gayo, tengah menghadapi titik kritis dalam sejarah panjangnya

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Rizwan
Fikar W Eda/TribunGayo.com
DIDONG DAN TANTANGAN - Maestro Didong Gayo Ceh M Din saat menjelaskan tentang Didong dan tantangannya di masa sekarang. Ia juga bicara nasib seniman Didong yng memprihatinkan, Jumat (11/7/2025) 

Laporan Fikar W. Wda I Jakarta

TRIBUNGAYO.COM, JAKARTA – Didong, salah satu seni tradisi paling khas dari Tanah Gayo, tengah menghadapi titik kritis dalam sejarah panjangnya.

Dalam forum bincang maestro  yang diselenggarakan oleh Yayasan Bali Purnati di Panggung Maestro VIII di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Jumat (11/6/2025), maestro Didong asal Aceh Tengah, Ceh M Din, dengan suara bergetar menyampaikan nasib getir yang kini membelit seni ini.

“Didong berasal dari dua kata: din dan dong, yang berarti menyampaikan pesan agama,” jelas M Din.

Awalnya, digunakan sebagai media menyampaikan nilai-nilai agama dan kebijaksanaan hidup.

Didong bukan sekadar hiburan, tetapi menyatu dalam tiga unsur utama: seni gerak, seni vokal, dan sastra lisan.

Namun, seni ini tak hanya tentang penampilan luar.

Peran Ceh dalam Didong adalah sosok sentral. Seorang Ceh harus mampu menciptakan lirik, menyusun lagu, dan melantunkannya sendiri.

“Kalau hanya menyanyikan lagu orang lain, itu bukan Ceh. Itu vokalis,” tegas M Din.

M Din mulai ber-Didong sejak 1966. Namun, sejak saat itu, perubahan zaman dan kurangnya kepedulian membuat Didong perlahan tersisih.

Ia menyoroti penggunaan keyboard modern dalam pentas-pentas seni perkawinan dan hajatan lainnya saat ini.

“Keyboard menghancurkan guk dan ciri khas Gayo. Ia tidak memberi ruang ekspresi bebas seperti tepukan tangan dalam Didong yang asli,” ungkapnya.

Lebih memilukan, Didong sudah punah sejak 40 tahun lalu.

Kini, generasi muda yang lahir dari orang tua Gayo bahkan tak lagi berbahasa Gayo, melainkan bahasa Indonesia. Lagu-lagu tradisi tidak lagi akrab di telinga mereka.

“Anak-anak kita bahkan bertanya, ‘Lagu apa ini?’ saat mendengar karya Didong. Mereka lebih suka musik dari barat,” keluh M Din.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved