Jumat, 10 April 2026

Jeritan Warga Harga Beras Naik

Himpitan Ekonomi, Masyarakat Aceh Tengah Kini Beli Beras per Bambu

Beras yang dijual di tokonya mayoritas didatangkan dari pesisir Aceh, tidak satu pun berasal dari wilayah Takengon sendiri.

Penulis: Alga Mahate Ara | Editor: Sri Widya Rahma
TRIBUNGAYO.COM/ALGA MAHATE ARA
BERAS MELAMBUNG - Ilham, pedagang beras di Paya Ilang, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, Rabu (23/7/2025). Harga beras yang meroket selama empat bulan terakhir memaksa banyak masyarakat mengubah pola belanja, dari membeli satu karung, kini hanya mampu beli per bambu. 

Laporan Alga Mahate Ara | Aceh Tengah 

TRIBUNGAYO.COM, TAKENGON - Di tengah lanskap pegunungan Aceh Tengah yang biasanya tenang, keresahan kini merayap ke rumah-rumah warga.

Harga beras yang meroket selama empat bulan terakhir memaksa banyak masyarakat mengubah pola belanja, dari membeli satu karung, kini hanya mampu beli per bambu.

Kondisi ini diungkap langsung oleh Ilham (21), pedagang beras di Desa Tansaril, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah

Di toko kecilnya yang berjajar karung-karung beras dari berbagai merek, Ilham menyaksikan sendiri bagaimana daya beli warga menurun drastis.

“Dulu beli satu karung, sekarang banyak yang beli per bambu saja. Kadang karung kecil, tergantung isi dompet,” ujar Ilham kepada TribunGayo.com Rabu (23/7/2025).

Ia menjelaskan, kenaikan harga tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan bertahap sejak empat bulan lalu.

Menurut Ilham, harga beras di Aceh Tengah perlahan mulai naik dari Rp 5.000 lalu naik lagi, hingga kini harga beras premium seperti Yusima menembus Rp 250.000 per karung. 

Bahkan beras paling murah, merek Putra Yusima, tetap dianggap mahal bagi sebagian warga.

Kenaikan harga tak hanya membuat pembeli mengeluh, tapi juga menyebabkan perbedaan harga antar toko.

Beberapa pedagang belum mendapat informasi terkini, sehingga pembeli membandingkan harga dan membuat suasana pasar menjadi panas.

“Kadang pembeli komplain. Hari ini beli sekian, besok sudah naik lagi. Belum lagi mereka banding-bandingkan toko,” kata Ilham.

Untuk menyesuaikan kondisi dan menjaga loyalitas pelanggan, Ilham memilih memangkas keuntungan.

Baginya, membantu warga lebih penting daripada mengejar laba di tengah tekanan ekonomi.

“Omset jelas turun, keuntungan pun saya potong. Kalau ditinggikan lagi, berat buat masyarakat,” tuturnya dengan nada prihatin.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved