Kamis, 30 April 2026

Jeritan Warga Harga Beras Naik

Himpitan Ekonomi, Masyarakat Aceh Tengah Kini Beli Beras per Bambu

Beras yang dijual di tokonya mayoritas didatangkan dari pesisir Aceh, tidak satu pun berasal dari wilayah Takengon sendiri.

Tayang:
Penulis: Alga Mahate Ara | Editor: Sri Widya Rahma
TRIBUNGAYO.COM/ALGA MAHATE ARA
BERAS MELAMBUNG - Ilham, pedagang beras di Paya Ilang, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, Rabu (23/7/2025). Harga beras yang meroket selama empat bulan terakhir memaksa banyak masyarakat mengubah pola belanja, dari membeli satu karung, kini hanya mampu beli per bambu. 

Laporan Alga Mahate Ara | Aceh Tengah 

TRIBUNGAYO.COM, TAKENGON - Di tengah lanskap pegunungan Aceh Tengah yang biasanya tenang, keresahan kini merayap ke rumah-rumah warga.

Harga beras yang meroket selama empat bulan terakhir memaksa banyak masyarakat mengubah pola belanja, dari membeli satu karung, kini hanya mampu beli per bambu.

Kondisi ini diungkap langsung oleh Ilham (21), pedagang beras di Desa Tansaril, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah

Di toko kecilnya yang berjajar karung-karung beras dari berbagai merek, Ilham menyaksikan sendiri bagaimana daya beli warga menurun drastis.

“Dulu beli satu karung, sekarang banyak yang beli per bambu saja. Kadang karung kecil, tergantung isi dompet,” ujar Ilham kepada TribunGayo.com Rabu (23/7/2025).

Ia menjelaskan, kenaikan harga tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan bertahap sejak empat bulan lalu.

Menurut Ilham, harga beras di Aceh Tengah perlahan mulai naik dari Rp 5.000 lalu naik lagi, hingga kini harga beras premium seperti Yusima menembus Rp 250.000 per karung. 

Bahkan beras paling murah, merek Putra Yusima, tetap dianggap mahal bagi sebagian warga.

Kenaikan harga tak hanya membuat pembeli mengeluh, tapi juga menyebabkan perbedaan harga antar toko.

Beberapa pedagang belum mendapat informasi terkini, sehingga pembeli membandingkan harga dan membuat suasana pasar menjadi panas.

“Kadang pembeli komplain. Hari ini beli sekian, besok sudah naik lagi. Belum lagi mereka banding-bandingkan toko,” kata Ilham.

Untuk menyesuaikan kondisi dan menjaga loyalitas pelanggan, Ilham memilih memangkas keuntungan.

Baginya, membantu warga lebih penting daripada mengejar laba di tengah tekanan ekonomi.

“Omset jelas turun, keuntungan pun saya potong. Kalau ditinggikan lagi, berat buat masyarakat,” tuturnya dengan nada prihatin.

Beras yang dijual di tokonya mayoritas didatangkan dari pesisir Aceh seperti Pidie, Tiro, dan Aceh Utara. Tidak satu pun berasal dari wilayah Takengon sendiri.

Menurutnya, kenaikan harga disebabkan oleh dua hal utama, kurangnya pasokan air bagi petani karena irigasi yang tidak maksimal, serta kebijakan Bulog yang membeli langsung dari petani, sehingga pabrik kekurangan stok beras.

“Bulog ambil langsung dari petani, jadi pabrik kosong. Harga pun ikut naik,” ujarnya.

Ilham berharap pemerintah segera turun tangan, menstabilkan harga, dan mengatasi akar permasalahan agar masyarakat bisa bernafas lebih lega.

Kalau bisa harga beras diturunkan, biar pembeli nggak kaget tiap datang ke toko. Kasihan masyarakat,” tutupnya dengan harapan besar. (*)

Baca juga: Emak-emak di Takengon Resah Beras Oplosan, Minta Pemerintah Turun Tangan

Baca juga: Harga Beras di Aceh Tengah Masih Tinggi, Warga Ramai Beralih ke Beras Biasa

Baca juga: Harga Beras di Aceh Tengah Naik Lagi, Premium Capai Rp 248.000 per Karung

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved