Jumat, 5 Juni 2026

Banjir Aceh Tengah

Seniman Didong Linge Aseli, Mahdi dan Kisah 105 Liter BBM untuk Kampung Linge

Mahdi menembus jalur rusak demi 105 liter BBM, menyalakan genset, dan membawa cahaya harapan ke Kampung Linge.

Tayang:
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Budi Fatria
TribunGayo.com/Fikar W Eda
KESAKSIAN MAHDI- Mahdi, pemuda dari Kampung Linge, juga Seniman yang tergabung dalam grup Didong Linge Aseli saat berbincang dengan TribunGayo di Kute Robel, Isaq, 6 Januari 2026. 

Ringkasan Berita:
  • Kampung Linge gelap tanpa listrik, BBM habis, jalan putus, jembatan patah, dan hujan terus mengguyur setelah bencana hidrometeorologi akhir November 2025.
  • Mahdi bersama abangnya menempuh jalur ekstrem menuju Kemp, pusat transit BBM, melewati sungai deras, jalan berlumpur, dan jembatan rusak untuk membeli 105 liter BBM.

 

Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W. Eda | Aceh Tengah

TribunGayo. Com, TAKENGON - Hari itu adalah hari kesembilan setelah bencana Hidrometrologi menghantam Tanah Gayo, 26 November 2025. Kampung Linge masih gelap. Ginset ada, tapi tak bernyawa.

BBM tak tersisa. Jalan-jalan putus, jembatan patah, dan hujan masih sering turun seolah tak ingin memberi jeda.

Di tengah situasi itu, Mahdi—pemuda Kampung Linge, seniman Didong yang tergabung dalam Grup Didong Linge Aseli—membuat keputusan yang bagi banyak orang terdengar nyaris mustahil.

“Saya tergugah. Saat itu harga BBM sampai delapan puluh ribu rupiah per liter,” kata Mahdi, pelan, seolah masih menyimpan lelah di suaranya. Ia diwawancarai TribunGayo.com, di Kute Robel, Isaq, Senin 6 Januari 2026.

Kemp Jadi Sentral Transit BBM

Ia tak menunggu bantuan datang. Ia memilih berangkat.

Mahdi tidak sendiri. Ia ditemani abangnya, Senangdi, dari Kampung Reje Payung, Kecamatan Linge.

Baca juga: "Teger" Suara dari Perut Gunung, Alarm Alam Sebelum Longsor dan Banjir Lumpur

Dua bersaudara itu tahu benar: perjalanan menuju Kemp, Kecamatan Permata, Bener Meriah, bukan perjalanan biasa.

Itu adalah perjalanan menantang alam yang baru saja murka.

Ketika itu Kemp menjadi sentral transit BBM dan logistik dari pesisir Aceh Utara. 

Dari Kampung Linge, mereka menuntun sepeda motor hingga ke tepian Kala Ili.

Motor itu tak bisa menyeberang sendiri—harus diangkut dengan getek, melawan arus sungai yang masih deras dan keruh.

Dari sana mereka lanjut ke Waq, Isaq, lalu Simpang Gading, menembus Atu Lintang dan Pegasing.

Jalan berlumpur, jembatan patah, beberapa ruas nyaris hilang ditelan longsor.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved