Banjir Aceh Tengah
Seniman Didong Linge Aseli, Mahdi dan Kisah 105 Liter BBM untuk Kampung Linge
Mahdi menembus jalur rusak demi 105 liter BBM, menyalakan genset, dan membawa cahaya harapan ke Kampung Linge.
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Budi Fatria
Ringkasan Berita:
- Kampung Linge gelap tanpa listrik, BBM habis, jalan putus, jembatan patah, dan hujan terus mengguyur setelah bencana hidrometeorologi akhir November 2025.
- Mahdi bersama abangnya menempuh jalur ekstrem menuju Kemp, pusat transit BBM, melewati sungai deras, jalan berlumpur, dan jembatan rusak untuk membeli 105 liter BBM.
Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W. Eda | Aceh Tengah
TribunGayo. Com, TAKENGON - Hari itu adalah hari kesembilan setelah bencana Hidrometrologi menghantam Tanah Gayo, 26 November 2025. Kampung Linge masih gelap. Ginset ada, tapi tak bernyawa.
BBM tak tersisa. Jalan-jalan putus, jembatan patah, dan hujan masih sering turun seolah tak ingin memberi jeda.
Di tengah situasi itu, Mahdi—pemuda Kampung Linge, seniman Didong yang tergabung dalam Grup Didong Linge Aseli—membuat keputusan yang bagi banyak orang terdengar nyaris mustahil.
“Saya tergugah. Saat itu harga BBM sampai delapan puluh ribu rupiah per liter,” kata Mahdi, pelan, seolah masih menyimpan lelah di suaranya. Ia diwawancarai TribunGayo.com, di Kute Robel, Isaq, Senin 6 Januari 2026.
Kemp Jadi Sentral Transit BBM
Ia tak menunggu bantuan datang. Ia memilih berangkat.
Mahdi tidak sendiri. Ia ditemani abangnya, Senangdi, dari Kampung Reje Payung, Kecamatan Linge.
Baca juga: "Teger" Suara dari Perut Gunung, Alarm Alam Sebelum Longsor dan Banjir Lumpur
Dua bersaudara itu tahu benar: perjalanan menuju Kemp, Kecamatan Permata, Bener Meriah, bukan perjalanan biasa.
Itu adalah perjalanan menantang alam yang baru saja murka.
Ketika itu Kemp menjadi sentral transit BBM dan logistik dari pesisir Aceh Utara.
Dari Kampung Linge, mereka menuntun sepeda motor hingga ke tepian Kala Ili.
Motor itu tak bisa menyeberang sendiri—harus diangkut dengan getek, melawan arus sungai yang masih deras dan keruh.
Dari sana mereka lanjut ke Waq, Isaq, lalu Simpang Gading, menembus Atu Lintang dan Pegasing.
Jalan berlumpur, jembatan patah, beberapa ruas nyaris hilang ditelan longsor.
| Kehangatan Luna Maya Bersama Korban Bencana di Aceh Tengah hingga Sahur Pertama Bersama Warga |
|
|---|
| Sebanyak 821 KK Warga Terdampak Bencana di Aceh Tengah belum Terima Dana Tunggu Hunian |
|
|---|
| Andalkan Genset dan Lampu Surya, Warga 11 Desa di Aceh Tengah Hidup Tanpa Listrik |
|
|---|
| Polres Aceh Tengah dan Brimob Lanjutkan Gotong Royong Pulihkan Fasilitas Umum |
|
|---|
| Aktivitas Ekonomi Masyarakat Aceh Tengah Berangsur Pulih Pascabencana |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Mahdi-pemuda-dari-Kampung-Linge.jpg)