Selasa, 21 April 2026

Kupi Senye

Menimbang Trauma Healing Ditengah Luka yang Belum Pulih

Menghadirkan pacuan kuda sebagai medium trauma healing patut dikritisi secara jernih.

FOTO IST
OPINI TRIBUNGAYO - Mahbub Fauzie merupakan warga Aceh Tengah dan salah seorang Relawan Tanpa Batas Jagong Jeget Peduli. Ia menulis opini berjudul 'Menimbang Trauma Healing Ditengah Luka yang Belum Pulih', Selasa (14/4/2026). 

Oleh: Mahbub Fauzie *)

Rencana pemerintah daerah menggelar pacuan kuda dalam rangka HUT Kota Takengon ke-449 sebagaimana diberitakan dinyatakan bukan sekadar seremonial, melainkan sebagai ruang trauma healing sekaligus penggerak ekonomi.

Narasi ini terdengar ideal: menyembuhkan luka sekaligus menghidupkan dapur masyarakat.

Namun di sinilah letak persoalan mendasarnya: apakah trauma healing bisa direduksi menjadi sebuah event hiburan massal? Dan apakah momentum ini benar-benar tepat?

Antara Narasi dan Realitas Lapangan

Pemerintah menyebut ini “bukan euforia”. Tetapi realitas sosial sering kali berbicara sebaliknya.

Event besar dengan anggaran ratusan juta rupiah, melibatkan keramaian, kompetisi, dan hiruk-pikuk publik secara sosiologis sulit dilepaskan dari nuansa perayaan.

Sementara itu, di sudut-sudut lain Aceh Tengah, masih terdengar suara yang jauh dari kata pulih:

  • rumah yang belum sepenuhnya diperbaiki,
  • fasilitas umum yang belum kembali normal,
  • dan warga yang masih bertahan dalam ketidakpastian.

Bahkan, suara seperti “jangan tunggu kami mati” dalam pemberitaan lain menjadi alarm keras bahwa pemulihan belum selesai, bahkan bagi sebagian orang belum benar-benar dimulai.

Di titik ini, publik berhak bertanya:

apakah kebijakan ini lahir dari sensitivitas terhadap luka, atau lebih karena dorongan mengejar momentum?

Trauma Healing: Antara Konsep dan Simplifikasi

Menghadirkan pacuan kuda sebagai medium trauma healing patut dikritisi secara jernih.

Sebab, trauma healing bukanlah tontonan ia adalah proses pemulihan yang mendalam dan berkelanjutan.

Trauma tidak sembuh hanya dengan distraksi sesaat. Ia membutuhkan:

  • rasa aman yang nyata,
  • kehadiran sosial yang empatik,
  • pendampingan psikososial,
  • dan pemulihan kondisi hidup secara konkret.

Jika trauma healing dimaknai sekadar “menghibur agar lupa”, maka itu bukan penyembuhan melainkan penundaan rasa sakit.

Dalam perspektif Islam, empati bukan sekadar sikap, tetapi ukuran iman. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak beriman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, menghadirkan kegembiraan di tengah duka yang belum selesai harus diuji dengan satu pertanyaan sederhana:

Apakah kita sudah merasakan apa yang mereka rasakan? Ekonomi Bangkit, Tapi untuk Siapa?

Argumen kedua yang diajukan adalah kebangkitan UMKM. Ini tentu penting dan layak didukung.

Namun perlu kejujuran:

apakah seluruh lapisan masyarakat terdampak akan merasakan manfaat ekonomi tersebut?

Pengalaman menunjukkan, event seperti ini seringkali lebih menguntungkan pelaku usaha yang sudah siap.

Sementara korban terdampak berat justru belum punya daya untuk ikut serta.

Jika demikian, maka yang terjadi bukan pemerataan pemulihan, melainkan ketimpangan dalam momentum kebangkitan.

Pemulihan ekonomi yang berkeadilan seharusnya dimulai dari:

  • mereka yang paling terdampak,
  • yang kehilangan mata pencaharian,
  • yang masih berjuang dari titik nol.

Prioritas: Luka Disembuhkan, Bukan Ditutupi

Dengan anggaran sekitar Rp480 juta, publik wajar berharap setiap rupiah diarahkan pada kebutuhan paling mendesak.

Ditengah kondisi saat ini, pilihan kebijakan menjadi sangat moral sifatnya:

Apakah kita ingin terlihat pulih, atau benar-benar pulih?

Menunda bukan berarti menolak. Mengkritisi bukan berarti menghambat.

Justru di sinilah letak tanggung jawab bersama agar kebijakan tidak sekadar tepat secara administratif, tetapi juga tepat secara nurani.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)

Namun kemudahan itu tidak datang dari euforia, melainkan dari kesabaran, ketepatan langkah, dan keberpihakan pada yang paling membutuhkan.

Menjaga Marwah Kepedulian

Aceh Tengah dikenal dengan kearifan lokal dan religiusitas yang kuat. Dalam tradisi kita, kepedulian bukan hanya nilai ia adalah identitas.

Karena itu, kebijakan publik seharusnya tidak hanya diukur dari niat baik, tetapi juga dari:

  • sensitivitas sosial,
  • ketepatan waktu,
  • dan keberpihakan yang nyata.

Pacuan kuda tetaplah bagian dari budaya dan kebanggaan daerah. Ia bisa menjadi simbol kebangkitan jika ditempatkan pada waktu yang tepat.

Tetapi ketika luka masih terbuka, maka yang lebih dibutuhkan bukanlah perayaan, melainkan kehadiran.
Bukan keramaian, tetapi kepedulian.

Sebab pada akhirnya, pemulihan sejati bukan tentang mengalihkan perhatian dari luka, tetapi memastikan luka itu benar-benar pulih.

*) Penulis adalah warga Aceh Tengah, salah seorang Relawan Tanpa Batas Jagong Jeget Peduli.

Baca juga: BNPB Lakukan Operasi Modifikasi Cuaca, Antisipasi Bencana Hidrometeorologi di Aceh Tengah

Baca juga: Refleksi Bencana Alam di Tanah Gayo

Baca juga: Bener Meriah Siaga Bencana Hidrometeorologi, Warga Diminta Waspadai Cuaca Ekstrem

Sumber: TribunGayo
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved