Kamis, 16 April 2026

Kupi Senye

Pacuan Kuda di Persimpangan Nurani: Antara Empati dan Pemulihan Ekonomi

Pacuan kuda bisa menjadi momentum kebangkitan ekonomi pascabencana di Aceh Tengah, sementara disisi lain empati korban harus diprioritaskan.

Editor: Budi Fatria
TribunGayo.com
Kupi Senye - Penulis opini Mahbub Fauzie warga Aceh Trngah, salah seorang relawan tanpa batas Jagong Jeget Peduli. 

Ringkasan Berita:Pacuan kuda bisa menjadi simbol kebangkitan. Tetapi empati adalah fondasinya. Tanpa empati, kebangkitan hanya akan menjadi ilusi—terlihat hidup, tetapi sesungguhnya rapuh.

Oleh: Mahbub Fauzie

Jika pada tulisan saya di Kupi Senye sebelumnya, saya mengajak kita menimbang trauma healing di tengah luka yang belum pulih, maka diskursus berikutnya, saya ingin membawa kita pada satu titik krusial: persimpangan nurani dalam menentukan arah kebijakan.

Keputusan Bupati Aceh Tengah yang mendorong adanya publik hearing patut diapresiasi sebagai langkah membuka ruang partisipasi. Di tengah polemik yang berkembang, ini menjadi jalan tengah untuk mempertemukan dua arus besar: suara empati terhadap korban bencana dan harapan akan kebangkitan ekonomi masyarakat.

Namun perlu ditegaskan, persoalan ini tidak sesederhana memilih antara “lanjut” atau “tunda”. Ia menyentuh dimensi yang lebih dalam—tentang kepekaan nurani, keadilan sosial, dan cara kita memaknai pemulihan itu sendiri.

Baca juga: Menimbang Trauma Healing Ditengah Luka yang Belum Pulih

Indetitas Gayo dan Bangkitnya Ekonomi

Tidak dapat dipungkiri, bagi sebagian masyarakat—terutama pelaku UMKM, peternak kuda, pekerja informal, hingga sektor jasa—pacuan kuda bukan sekadar tontonan. Ia adalah ruang hidup.

Event ini diyakini memiliki efek berganda (multiplier effect): menghidupkan kembali usaha kecil, meningkatkan hunian penginapan dan transportasi, membuka lapangan kerja temporer, serta mengembalikan rasa percaya diri pelaku ekonomi pascabencana.

Dalam perspektif ini, menunda pacuan kuda kerap dimaknai sebagai menunda denyut harapan. Bahkan, sebagian melihatnya sebagai bentuk collective healing—menghadirkan keramaian untuk mengusir kesunyian yang ditinggalkan bencana.

Argumen ini bukan tanpa dasar. Ekonomi memang harus bergerak. Rakyat kecil membutuhkan ruang untuk bangkit. Dan budaya seperti pacuan kuda adalah identitas yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat Gayo.

Namun, di sinilah kita perlu berhenti sejenak—untuk bertanya lebih dalam: bangkit untuk siapa, dan dengan cara bagaimana?

Trauma Healing Bukan Sekedar Keramaian

Di sisi lain, kegelisahan publik juga memiliki pijakan yang kuat. Ketika sebagian masyarakat masih berjuang dari dampak bencana—rumah yang belum layak, fasilitas yang belum pulih, serta trauma batin yang belum sembuh—maka menghadirkan event besar berpotensi menimbulkan disonansi sosial.

Kita dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah ini momentum yang tepat?

Trauma healing bukan sekadar menghadirkan keramaian. Ia adalah proses yang menuntut: rasa aman yang nyata, kehadiran sosial yang tulus, pendampingan psikologis, serta pemulihan kondisi hidup secara konkret.

Jika tidak, maka yang terjadi hanyalah “menghibur agar lupa”, bukan menyembuhkan.

Dalam ajaran Islam, empati adalah inti dari keimanan. Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak beriman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved