Kupi Senye
Menangkal Konten Negatif di Ruang Digital
Dunia digital, telah mampu memproduksi dan melahirkan fenomena semakin menipisnya pembatas antara kebenaran dan kebohongan.
Tidak berbobot yang memanjakan selera sesaat, yang terkesan membodohi dan telah mampu memperalat.
Konten-konten tersebut jangan sampai mengubah perilaku menjadi konsumtif, bersifat instan, materialistisme, individualism.
Perilaku yang lebih menikmati budaya pop, budaya menengah ke bawah dan hedonism tanpa daya kritis.
Mesti kita pahami bahwa, dunia digital tentu tidak bisa lepas dari kemajuan digitalisasi.
Baca juga: Sandiaga Uno Ajak para Konten Kreator Bantu Promosi Kuliner dan UMKM Aceh
Ibarat dua sisi mata uang, media digital tidak hanya memberikan banyak manfaat, tetapi juga mempunyai sisi negatif.
Dunia digital, dapat menjadi kekuatan baru sebagai daya pikir kritis, kreatif dan inovatif.
Sebagai kekuatan baru cerminan berekspresi dalam bomunikasi.
kekuatan baru dalam keberagaman, dalam nilai-nilai toleransi, dalam budaya dan peradaban baru.
Menjadi kekuatan baru penguatan kearifan lokal, kekuatan baru dalam berdemokrasi.
Menjadi kekuatan baru dalam fluralisme dan multikulturalisme.
Kekuatan baru dalam menangkat paham radikalisme, ujaran kebencian, hoax, sparatisme dan teroisme.
Menjadi kekuatan baru dalam pengambilan kebijakan dan jembatan bagi aspirasi.
Sisi lain; dunia digital dapat juga menjadi ancaman bagi semua kekuatan diatas.
Ancaman dalam bentuk konten radicalism, hoax, ujaran kebencian.
sparatisme dan terorisme di media social yang dapat menimbulkan pertentangan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Dosen-Ilmu-Komunikasi-Unimal-Kamaruddin-Hasan.jpg)