Rabu, 10 Juni 2026

Kupi Senye

Menyusuri Kampung Linge: Wisata Tanpa Sinyal 

TIBA di Pematang Jerang Belanga, Diki dari Yayasan HAkA memberi tahu bahwa setelah tanjakan, sinyal telepon akan hilang

Tayang:
Editor: Rizwan
For TribunGayo.com
Penyair dan jurnalis asal tanoh Gayo, Fikar W Eda 

Udara pegunungan yang sedikit panas dibanding Takengon, jalanan tidak terlalu mulus, kelokan dan tanjkan, di beberapa bagian belum “selicin aspal.”

Begitu tiba di Kampung Linge, hal pertama yang saya sadari adalah hilangnya sinyal telepon seluler. Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar seperti mimpi buruk, tetapi bagi saya, ini adalah kesempatan untuk benar-benar terlepas dari dunia maya dan menyelami kehidupan nyata di kampung ini.

M Saleh Adong Linge dan kemudian Ismanadi Linge  menyambut kami dengan ramah dan menjelaskan bahwa ketidaktersediaan sinyal adalah keseharian di Linge.

Bersama Ceh M Din kami singgah di kedai milik kerabat Ismanadi. Kami berbincang sejenak, sebelum kemudian kami diantarkan ke tempat kami nginap, rumah orang tua dari Ismanadi. 

"Di sini, kita bisa benar-benar hidup tanpa gangguan. Pengunjung dapat menikmati suasana tradisional dan alam tanpa terganggu oleh notifikasi dan email," ujar Ismanadi.

Tapi ada beberapa yang mencoba menemukan sinyal telepon, mereka adalah tamu yang datang dari luar daerah, juga dalam rangka Festival Nenggeri Linge tadi. Kata Ismanadi, ada satu titik yang bisa menangkap sinyal, umumnya warga setempat “nongkrong” di tempat itu kalau mau berkomunikasi.

Tempatnya tidak jauh dari kedai  kami istirahat tadi. Agak gelap memang.

Selepas makan malam yang sudah disiapkan panitia, saya dan Ceh M. din diajak ke Buntul Linge, tempat penyelenggaraan Festival Nenggeri Linge.

Di sana ada dua rumah adat, “Umah Pitu Ruang.” Buntul Linge diyakini pusat Kerajaan Linge, didirikan Genali pada 1025 Masehi. Kami berkumpul di bawah Umah Pitu Ruang, dibangun masa Bupati Shabela Abubakar.

“Umah Pitu Ruang” satunya lagi dibangun masa Bupati Mustafa M Tamy. Rupanya ada “didong morom,” malam itu. Ceh M Din kemudian mengawali didong setelah memberikan sedikit arahan. Meriah sekali. Saya membaca puisi secara sepontan di sela tepukan didong. 

Selama berada di Linge, saya berkesempatan berinteraksi dengan masyarakat. Selama ini saya mengenal Linge dari beberapa bacaan buku ditulis AR Hakim Aman Pinan, Yusra Habib Abdul Gani dan beberapa cerita.  

Kampung Linge dikelilingi  alam sedikit terjal. Ini memang bukan daerah pertanian. Kawasan ini lebih menonjol sebagai tempat penggembalaan, khusunya kerbau.

Tanaman yang tumbuh; kelapa, pinang, kemiri, sedikit sawah, kopi robusta dan tanaman keras lainnya.  

Lalu bagaimana dengan masa depan Linge? “Kita akan kembangkan sebagai daerah wisata adat budaya dan religi,” kata Reje Zainuddin SL. Pj Bupati Aceh Tengah Teuku Mirzuan sudah menerbitkan regulasi yang menetapkan Kampung Linge sebagai kampung wisata religius seperti halnya Serule. Jadi tinggal diisi dan dikembangkan.

Di sela perbincangan tentang Linge sebagai kampung wisata, muncul gagasan menjadikan “Linge Tanpa Sinyal” sebagai nilai tambah dari wisata Linge.

Sumber: TribunGayo
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved