Rabu, 10 Juni 2026

Kupi Senye

Pacuan Kuda Ikon Baru Kota Wisata Takengon

Kota Wisata Takengon yang merupakan pusat pemerintahan kabupaten Aceh Tengah yang terletak sebelah timur Danau Laut Tawar

Tayang:
Editor: Rizwan
For TribunGayo.com
Hammaddin Aman Fatih 

Tidak ada dalam sejarah di dunia ada penonotan lebih 120 ribu orang menghadirinya. Yang ada cuma di tanah Gayo-Aceh.

Kesuksesan pelaksanaan pacuan kuda tersebut, tidak merupakan sebuah kesalahan, kalau pasca pelaksanaan PON XXI Aceh- Sumut itu, pacuan kuda bisa menjadi ikon baru bagi kota Wisata Takengon itu.

Hal ini juga didukung dengan adanya, ada venue olahraga pacuan warisan PON XII Aceh-Sumut yang sudah standar nasional dan akan menarik lebih banyak acara, kompetisi, dan pelatihan yang dapat meningkat popularitas olahraga itu dan berskala event besar. 

Dan juga pelaksanaan olahraga berkuda sudah menjadi bagi dari tradisi budaya tahun masyarakat di tanah
tanah Gayo (Aceh Tengah-Bener Meriah dan Gayo Lues), yang dilaksanakan selama 7 hari berturut-turut.

Olahraga pacuan kuda pertama kali diadakan di tepi bagian timur danau Laut Tawar, tepatnya di Pantai Pasir Kampung Menye kecamatan Bintang Aceh Tengah. Waktu itu kaum perempuan di larang ikut menonton pertandingan tersebut, dianggap tabu.

Pada waktu itu, para joki umumnya remaja tanggung berusia muda dan tidak dibenarkan mereka memakai baju saat mengikut perlombaan tersebut.

Kuda, joki dan pemiliknya yang menang dalam pertandingan tersebut diarak keliling kampung. Pertandingan pacuan kuda diadakan di tepi pantai yang berpasir dengan jarak tempuh ± 2
km.

Pada saat pertandiangan tersebut berlangsung, ada sebahagian penduduk mengadakan kenduri sambil membunyikan canang secara bersahutan. 

Pada tahun 1904 M dengan keluarnya perintah Pemerintahan Kolonial Belanda, agar lokasi pertandingan dipindahkan ke pusat pemerintahan di kota Takengon, tepatnya di kampung Blangkolak. 

Menurut suatu sumber, bahwa Belanda dulunya memindahkan lokasi pertandingan pacuan kuda ke Takengon dari Bintang adalah dengan alasan untuk menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ratu Wilhemmina (Ratu Belanda).

Baru di tahun 2003, keluar lagi keputusan Pemda Aceh Tengah untuk memindahkan lokasinya ke lapangan H. Muhammad Hasan Gayo di Desa Blang Bebangka kecamatan Pegasing yang masih wilayah lingkungan Kabupaten Aceh Tengah.

Dilaksanakan biasanya sehari setelah diadakan upacara 17 Agutusan sebagai tanda memperingati dan menyemarakan kemerdekaan Indonesia setiap tahunannya.

Di tanah Gayo dahulunya, kuda hanya menjadi alat angkutan disamping sebagai alat yang digunakan untuk membajak sawah dan saat itu juga menjadi salah satu alat untuk menentukan standar kekayaan seseorang.

Biasanya dahulu bila masyarakat tanah Gayo telah selesai pekerjaan dipersawahan, maka penduduk mencari kesibukan dengan mengurus kuda sambil menunggu waktu membajak sawah lagi.

Biasanya hal ini bertepatan dengan bulan Agustus dan masyarakat mengadakan kegiatan pacuan kuda.

Sumber: TribunGayo
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved