Kupi Senye
Fenomena Gunung Es
Ada sebuah pepatah mengatakan ‘tidak ada asap jika tidak ada api’, peristiwa tersebut hanya asap dari ‘kobaran api’ yang sedang terjadi di sekitar.
Maka anak akan merasa benar walau mereka sedang melakukan suatu kesalahan, sekali berbuat salah dibiarkan.
Dua kali berbuat salah tidak ditegur, lama- lama mereka menganggap kesalahan sebagai suatu kebenaran.
Sarak opat yang dibentuk untuk mewujudkan masyarakat yang menghidupkan nilai-nilai adat yang berlandaskan agama, terdiri dari reje, petue, imem dan RGM.
Sinergitas elemen-elemen tersebut dalam mejalankan tugas dan fungsinya akan menjadi hal penting dalam upaya menjalankan nilai-nilai adat dan agama ditengah-tengah masyarakat.
Namun hari ini pepatah Gayo “salah bertegah, benar berpapah” jauh panggang dari api, hal ini juga tidak jauh berbeda dari apa yang terjadi di sekolah, ketakutan akan ‘menegur kesalahan orang’ semakin mengental.
Pembiaran terhadap pelanggaran nilai- nilai adat dan agama menjamur bahkan mendarah daging.
Lebih jauh dari itu, ketika ada bawahan atau seseorang yang menyampaikan saran atau kritikan terhadap kebijakan atau program seorang pejabat.
Maka dianggap sebagai sebuah penentangan dan ketidakpatuhan, bukan menerima apalagi mengucapkan terima kasih dan menjadikannya sebagai instrumen untuk melakukan evaluasi.
Tidak jarang berakhir dengan mutasi bahkan ‘mematikan karir’, yang akhirnya apatisme menjadi pribadi setiap orang.
Kejadian yang viral itu laksana puncak gunung es, kita melihat seolah itu hanya hal kecil, laksana gunung es di lautan samudra yang terlihat hanya kecil karena itu hanya puncaknya.
Sesungguhnya ada gunung besar yang berdiri di dalam lautan, nyata namun tidak kelihatan.
Fungsi kontroling sangat diperlukan dalam setiap hal, jika fungsi ini tidak berjalan maka setiap orang akan merasa benar.
Apalagi berubah menjadi fungsi puja puji, apapun kebijakannya baik atau buruk, yang penting dipuji.
Apapun programnya bermanfaat atau tidak yang penting dipuji, maka kesalahan akan dianggap kebenaran, dan jika itu sudah menjadi budaya, mari kita khawatir akan letusan gunung es yang sangat dahsyat.
Pada akhirnya, mari kita fungsikan kembali kontrol dikalangan kita, amar ma’ruf dan nahi mungkar kita budayakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/ANSOR-PENULIS-OPINI.jpg)