Kupi Senye

Fenomena Gunung Es

Ada sebuah pepatah mengatakan ‘tidak ada asap jika tidak ada api’, peristiwa tersebut hanya asap dari ‘kobaran api’ yang sedang terjadi di sekitar.

ISTIMEWA
OPINI TRIBUNGAYO- Ansor merupakan Dosen pada IAIN Takengon yang mengajar pada Fakultas Tarbiyah dan Program Pascasarjana. Ia menuliskan opini berjudul Fenomena Gunung Es, Kamis (20/2/2024). 

Oleh: Ansor *)

Beberapa waktu yang lalu masyarakat Aceh Tengah seolah kebakaran jenggot karena ada sebuah peristiwa yang sepertinya mencoreng setiap wajah penduduk di salah satu kabupaten bersyariat Islam ini.

Peristiwa yang viral itu terjadi di salah satu kecamatan yang ada di negeri berhawa sejuk, hampir semua tangan menuliskan komentar negatif, komentar menghakimi bahkan sebagian menghina dan berbau sara.

Apakah yang viral itu tidak salah? Pasti jawabannya salah, dari berbagai sisi jawabannya akan sama, baik sosial, budaya apalagi agama, sudah pasti itu hal yang tidak baik.

Tulisan ini tidak hendak menjadikan peritiwa itu seolah jadi baik, tidak juga hendak menambah hujatan dan caci maki, tapi tulisan ini ingin mengajak kita melihat lebih dalam viralnya hal tersebut.

Ada sebuah pepatah mengatakan ‘tidak ada asap jika tidak ada api’, peristiwa tersebut hanya asap dari ‘kobaran api’ yang sedang terjadi di sekitar.

Mari kita buka mata melihat lebih jernih apa yang sebenarnya yang sedang terjadi.

Salah satu asas dalam agama Islam ‘amar ma’ruf nahi mungkar’ seolah hanya isapan jempol hari ini, pepatah Gayo ‘beru berama, bujang berine’ juga sama saja, hanya tinggal tulisan.

Hari ini orang sudah ‘malas’ untuk menegur jika ada sesuatu yang tidak baik, menutup mata pada ketidakbaikan, seolah tidak melihat peristiwa yang tidak layak yang terjadi dihadapannya.

Acuh pada prilaku orang lain, hal ini tentu tidak terjadi begitu saja, pasti ada alasan kenapa ini terjadi.

Sekolah yang merupakan lembaga yang didirikan untuk mendidik dan mewujudkan ‘insan kamil’, manusia sempurna karena ilmu pengetahuan yang luas, akhlak yang mulia juga akidah yang kokoh.

Hari ini seolah hanya sebagai wadah untuk menerbitkan surat legalitas bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, kenapa?

Karena proses transfer of knowledge berjalan apa adanya, transfer of value seolah tidak terjadi.

Karena guru merasa takut untuk melakukan tindakan yang ‘agak keras’ dalam membentuk akhlak yang mulia pada murid muridnya.

Takut melanggar HAM, takut dilaporkan ke pihak yang berwajib akhirnya timbul sebuah habit “yang penting saya masuk, anak mau paham atau tidak, mau beretika atau tidak, tidak jadi persoalan”.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved