Jumat, 5 Juni 2026

Kupi Senye

Puasa, Spiritual Journey Menuju Tuhan

Dalam Islam, kita juga dianjurkan untuk memulai perubahan dari diri sendiri sebelum melangkah ke wilayah yang lebih besar.

Tayang:
ISTIMEWA
OPINI TRIBUNGAYO- Dr Johansyah MA adalah Dosen STIT Al-Washliyah Aceh Tengah. Ia menulis opini berjudul Puasa, Spiritual Journey Menuju Tuhan, Senin (3/3/2025). 

Oleh: Dr Johansyah MA *)

Sudah beberapa hari kita menjalankan puasa Ramadhan.

Dengan spirit baru kita berharap Ramadhan kali ini menjadi jalan baru perubahan, baik secara individu, sosial, hingga dalam lingkup struktural kebangsaan.

Terlebih dalam situasi terpuruk Negara saat ini yang ditandai dengan beberapa peristiwa memilukan.

Demonstrasi mahasiswa yang bertemakan ‘Indonesia gelap’, tagar ‘kabur aja dulu’, band Sukatani, dugaan korupsi Pertamina hasil dari hasil mengoplos pertalite menjadi pertamax, dan sederet peristiwa lainnya.

Untuk tidak terlalu muluk-muluk dalam melakukan perubahan dalam lingkup makro, paling tidak puasa Ramadhan ini dapat menjadi jalan spiritual bagi kita masing-masing untuk menata diri ke arah yang lebih baik.

Dalam Islam, kita juga dianjurkan untuk memulai perubahan dari diri sendiri sebelum melangkah ke wilayah yang lebih besar.

Berbicara proses puasa sebagai perjalanan spiritual menuju Tuhan berarti berbicara upaya seseorang dalam menata jiwa yang erat kaitannya dengan menundukkan hawa nafsu.

Semakin mampu seseorang dalam menundukkan hawa nafsu, maka semakin besar pula peluangnya untuk mudah menempuh perjalanan spiritual menuju Tuhan.

Hawa nafsu dalam diri manusia memiliki 4 level. Nafsu pada level yang paling bawah dinamakan amarah.

Di atasnya ada lawwamah, lalu mulhamah, dan level nafsu yang paling tinggi adalah nafsu muthmainnah.

Tahap demi tahap inilah yang harus diperjuangkan oleh seseorang, di mana dia harus mampu menaikkan level nafsunya hingga sampai pada nafsu muthmainnah.

Berikut akan saya uraikan satu persatu.

Pertama, nafsu amarah, yakni dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan yang buruk.

Menurut Fakhrudin Faiz, nafsu ini bukan saja mendorong orang untuk melakukan perbuatan keji, tapi juga merasa nyaman dengan apa yang dia lakukan.

Sumber: TribunGayo
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved