Kupi Senye
Baju Adat dan Motif Gayo
Para anthropolog sepakat kebudayaan adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang dipengaruhi oleh "kitaran geografis” dimana dia hidup.
Oleh: Muchlis Gayo *)
Mengikuti komentar di media sosial (medsos) tentang topi yang dipakai Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, dan pakaian adat peserta yang disarankan Bupati pada upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional, menggelitik penulis untuk nimbrung membahasnya melalui media ini.
Budaya berasal dari kata “colere”, bahasa latin, kata jamak dari budi dan daya, atau kekuatan yang mendorong akal untuk berfikir.
Para anthropolog sepakat kebudayaan adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang dipengaruhi oleh "kitaran geografis” dimana dia hidup.
Wujudnya ada dua. Pertama, berupa benda-benda atau artefak, kedua, bersifat ide-ide, konsep, dan gagasan, mengenai apa yang diyakini akan bernilai, penting.
Dan berfungsi sebagai pedoman yang memberi arah dan orientasi bagi kehidupan masyarakat, dapat disebut “sistem nilai budaya” atau “paling abstrak dari adat istiadat”.
Menurut bapak Antropolog Indonesia Prof Koentjara Ningrat, ada tujuh unsur kebudayaan disetiap kehidupan bersama dimanapun mereka berada.
Yaitu bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem relegi/agama, dan kesenian.
Semua unsur itu dapat diperkecil, contoh unsur Kesenian: seni lukis, seni pahat, seni suara, theatre, musik, sastra dan lain-lain. Menganyam, menenun, menyepuh, tembikar dan sebagainya.
Faktor kitaran geografis memaksa manusia tunduk kepada hukum-hukumnya, manusia memiliki akal melakukan penyesuaian dengan kitaran geografis alam dimana ia hidup.
Orang-orang yang hidup dipinggir laut atau dataran rendah, akan menyesuaikan diri dengan alamnya yang berhawa panas, berangin kencang.
Suara deburan ombak, mewujudkan budaya: vocal suara ringan, nyaring dan keras, pakaiana tipis, tanpa penutup kepala.
Rumahnya tinggi jenjang berjendela, agar udara masuk seni tidak beragam, tarinya bergerak dan berdiri, peralatan hidupnya terkait pertanian dan bersawah, serta nelayan laut.
Sebaliknya yang hidup di dataran tinggi, atau pergunungan, hutannya lebat terjal, kabutnya tebal, hewannya beragam.
Ada yang liar buas dan jinak, di kitaran alam seperti ini orang Gayo hidup, maka budayanya; vocal suara tebal berat, mata pencaharia hidupnya berburu, berternak, bersawah, nelayan sungai dan danau.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/MUCHLIS-GAYO-2804.jpg)