Kupi Senye
Baju Adat dan Motif Gayo
Para anthropolog sepakat kebudayaan adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang dipengaruhi oleh "kitaran geografis” dimana dia hidup.
Seninya, seni vocal, tari, mengukir, menganyam, membuat tembikar, menenun, menepa, dan menyepuh.
Rumahnya bertingkat rendah tanpa jendela, kecuali “tingkep” untuk mengeluarkan asap dapur. Berpakaian dan berselimut tebal, kepala di tutupi beragam bentuk kain.
Berdasarkan kajian tersebut, dikaitkan dengan pakaiaan adat peserta upacara, dan topi yang dipakai Bupati Drs Haili Yoga, yang sebelumnya dipakai juga oleh mantan Bupati Ir Nasaruddin, MM dan Drs Sabela Abu Bakar.
Penulis berpendapat:
1. Sesuai hukumnya, budaya Gayo baik di Kabupaten Aceh Tengah, maupun Bener Meriah, telah mengalami perubahan, karena pengaruh discovery dan Invention.
Akibat faktor akultrasi dan asimilasi sejak abad ke 16 antara orang Gayo dengan Karo, dan orang Gayo dengan pendatang dari pulau Jawa tahun 1917 dan 1980.
2. Topi : orang Gayo menyebutnya ” Ruje ni Ulu”, ( Ind; kain kepala) karena terbuat dari kain tanpa dijahit.
Dari beragam bentuknya, yang punya nama hanya 4, Seléng, Sėréng, Pengkah, Jembolang, mungkin juga Mekeutup yang dipakai Teuku Umar juga dari Gayo, seperti Debus, Serune Kale, dan Rencong atau Reuntjeong .
Pada PKA ke 2 tahun 1972, Bupati Aceh Tengah Alm Nurdin Sufie memakai penutup kepala model Pengkah yang tonjolan depannya diangkat keatas/tegak, tanpa motif dikerawang.
Selain Bupati, memakai model Serėng, modelnya mirip penutup Meuketeup yanag dipakai Sultan
Iskandar Muda.
3. Pakaian Adat Gayo, terlebih dahulu dibedakan kata pakaian adat dengan pakai bermotif yang di kerawang; pakaian adat, pakaian yang dipakai secara turun temurun, oleh masyarakat adatnya.
Sebelum Tanoh Gayo diduduki oleh Belanda, kainnya hasil tenunan, motifnya kotak-kotak bersegi, mirip hasil tenunan etnis Karo dan Batak, kain panjangnya disebut “opoh Ules”.
Terakhir yang memakai Syeh Sahak saat menari tari guru didong solo di pendopo era Bupati Nutrdin Sufie saat
menerima tamu daerah.
Setelah terbentuk pemerintahan hindia Belanda, alat tenun dimusnahkan muncul kain-kain produksi mesin, pakaian wanita berubah, bagian bawah tetap kain tenunan.
Memakai baju kurung kerah sanghai, kepala ditutupi selendang yang dilipat diatas, yang pria tetap pakai sarung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/MUCHLIS-GAYO-2804.jpg)