Sabtu, 9 Mei 2026

Kupi Senye

Durian Runtuh? Mualem Melanggeng di 2029

Seolah-olah, ketika semua tokoh politik sibuk rebutan panggung dan mikrofon alat kekuasaan, Mualem memilih jalan sunyi tapi tembus ke Jakarta.

Tayang:
Editor: Sri Widya Rahma
Dokumen Pribadi/Rizki Rahayu Fitri
KUPI SENYE - Rizki Rahayu Fitri adalah seorang Mahasiswa Hukum asal Aceh. 

Oleh: Rizki Rahayu Fitri *)

Empat pulau akhirnya resmi diumumkan menjadi milik Aceh. Euforia meledak. Dari Meulaboh hingga Pulo Aceh, rakyat bersorak seolah menang laga final Piala Dunia.

Tapi bukan hanya soal batas wilayah atau kedaulatan laut, ini tentang kebanggaan kolektif rasa memiliki yang selama ini seperti disimpan dalam lemari penuh debu.

Rakyat Aceh puas. Minimal untuk hari ini. Momen ini menjadi vitamin nasionalisme lokal yang sudah lama kekurangan asupan.

Tapi jangan buru-buru tepuk tangan terlalu keras. Karena seperti biasa, sorotan tajam pun beralih ke arah pemerintahan Aceh.

Ya, pemerintah yang sampai hari ini tampaknya masih kejar-kejaran dengan tugas regulasi, terutama dalam mengatur batas wilayah secara konkrit di bawah bayang-bayang Undang-Undang Pemerintahan Aceh Tahun 2006.

Empat pulau baru saja diakui, tapi Perda soal batas daratan saja masih berkutat di meja rapat dengan seribu lampiran.

Eitss.. jangan lupa pulaunya di berdayakan ya, ntar di ambil lagi lho…

Namun yang lebih mengejutkan, dari balik semua hingar-bingar itu, muncul satu nama yang selama ini seperti sedang berpuasa bicara: Muzakir Manaf alias Mualem.

Figur yang dalam dunia politik Aceh akhir-akhir ini dikenal lebih banyak diam. Diam yang dulu disangka beku, kini disebut emas
murni 24 karat.

Netizen langsung ambil alih narasi: “Mualem sedang menjalankan strategi diam berisi.” Dan ya, hari ini banyak orang percaya: diamnya Mualem ternyata berdiplomasi.

Seolah-olah, ketika semua tokoh politik sibuk rebutan panggung dan mikrofon alat kekuasaan, Mualem memilih jalan sunyi tapi tembus ke Jakarta.

Netizen menyebutnya pendekar politik Aceh yang mampu menjatuhkan "kekuasaan geng Solo" hanya dengan gerak-gerik minimalis.

Bahkan di dunia maya, diam beliau disebut sebagai "politik ninja". Tak tampak, tapi meninggalkan bekas.

Kita boleh tertawa, tapi fakta ini cukup menohok. Sebab ketika banyak pihak berspekulasi tentang siapa yang menjadi dalang dari keberhasilan ini, publik malah menyuguhkan satu narasi tunggal: ini kemenangan Mualem.

Dan bukan kemenangan biasa. Ini seperti durian runtuh, tapi bukan sembarang jatuh ini durian yang jatuh ke tangan tepat pada waktunya menjelang kontestasi politik mendatang.

Sayangnya, kita tidak lupa sejarah. Sebagian dari kita tentu masih ingat ketika Mualem menjabat sebagai Wakil Gubernur Aceh.

Banyak aspirasi rakyat yang seperti dilempar ke gua, masuk tak kembali. Banyak janji politik yang hanya sampai di baliho.

Lalu hari ini, dengan satu pencapaian yang sebenarnya hasil kolektif diplomasi antara kementerian dan lembaga pusat Mualem kembali dielu-elukan.

Ini seperti menonton film lama dengan efek suara baru. Maka muncullah skeptisisme wajar dari rakyat Aceh. Di satu sisi, pengakuan empat pulau ini menyatukan rakyat dalam semangat kolektif membela kedaulatan.

Di sisi lain, banyak pula yang tak lupa soal dinasti politik yang mulai tercium tajam: istri Mualem tiba-tiba muncul sebagai PAW
anggota dewan.

Rakyat Aceh tidak sebodoh itu untuk lupa bahwa demokrasi yang baik bukan hanya soal siapa yang menang, tapi juga bagaimana dia
menang dan siapa yang ikut duduk di belakangnya.

Lalu apa artinya semua ini bagi Partai Aceh? Satu kata: reinkarnasi. Setelah sempat terpecah belah oleh konflik internal dan kehilangan pesona seperti awal perdamaian Helsinki dulu, hari ini Partai Aceh seperti dapat karpet terbang.

Polarisasi rakyat Aceh yang sempat meragukan partai ini, mendadak kembali memberi ruang. Semua karena narasi pulau, dan potongan-potongan orasi Mualem yang viral di medsos yang sebenarnya tidak utuh, tapi justru itu yang membuatnya menyentuh dan kembali menjadi pengaruh.

Di tengah kekecewaan publik pada partai-partai nasional yang kerap bermain kasar di Jakarta, narasi Partai Aceh justru terasa seperti air segar meski kita tahu, itu air yang diisi ulang dari galon lama.

Tapi tak bisa dipungkiri, momentum ini dimanfaatkan dengan baik. Partai Aceh tak perlu bicara banyak. Empat pulau sudah cukup untuk mengisi seribu baliho dan seribu khutbah kampanye ke depan.

Apakah ini pertanda Partai Aceh akan mengirim pasukan lebih besar ke DPRA 2029? Sangat mungkin.

Bahkan bisa jadi lebih besar dari sebelumnya, karena rakyat sedang dalam fase “emotional rebound” terpukau oleh satu keberhasilan yang menggugah semangat Aceh Raya.

Namun tetap saja, bagi sebagian orang yang masih berpikir jernih, semua ini hanya permen rasa kemenangan. Enak di awal, tapi cepat lumernya.

Kenapa? Karena rakyat tahu, di balik permainan ini, ada aroma permainan yang biasa mereka cium di kancah nasional.

Di mana simbol- simbol perjuangan hanya dijadikan panggung, bukan peta jalan. Empat pulau bukan akhir. Ini seharusnya awal untuk menyusun ulang struktur pengelolaan sumber daya laut, memperbaiki perbatasan darat, dan menyusun strategi ekonomi maritim.

Tapi sayangnya, yang lebih heboh justru akun-akun medsos dan perang komentar soal siapa yang paling berjasa.

Tak bisa kita pungkiri, di balik semua polemik dan skeptisisme, Mualem tetaplah simbol kuat bagi sebagian rakyat Aceh seorang mantan pejuang yang berhasil bertahan di tengah derasnya ombak politik dan tetap tampil sebagai sosok yang dipercaya, walau dengan kalimat-kalimat yang kadang lebih terasa seperti kode Morse.

Ia mungkin bukan orator hebat seperti tokoh nasional lainnya, tapi justru itulah kekuatannya. Keheningan beliau berbicara lebih lantang daripada mereka yang kebanyakan bicara tapi kosong isi.

Toh, dalam politik Aceh, kadang kemampuan bicara bukanlah segalanya. Yang penting adalah kemampuan membaca situasi, dan tampaknya Mualem cukup mahir membaca arah angin.

Hanya saja, kita berharap beliau tak sekadar pandai membaca, tapi juga berani menulis bab baru untuk Aceh yang lebih transparan dan adil tanpa perlu menulisnya lewat pena keluarga atau tinta dinasti.

Dengan momentum ini, tak berlebihan jika publik mulai berspekulasi bahwa Mualem sedang mempersiapkan jalur mulus menuju 2029.

Popularitasnya yang kembali naik, ditambah aura “pahlawan empat pulau”, menjadi bahan bakar politik yang sangat premium.

Tapi tentu, popularitas bukan jaminan kemajuan, apalagi kalau hanya digunakan untuk merawat simbol, bukan memperjuangkan substansi.

Untuk itu, kita titipkan satu pesan kecil yang tak seberapa, tapi cukup menggelegar kalau diseriusi: Aceh butuh pembangunan nyata. Pemerataan wilayah dari pesisir ke pegunungan, dari barat ke timur, bukan cuma baliho dan jargon.

Jika Mualem memang ingin dikenang lebih dari sekadar ikon kombatan, maka dorongan terhadap pembangunan nasional yang bersinergi dan serius mengangkat wajah Aceh ke arah kota metropolitan yang layak ditiru, harus menjadi prioritas, kepada Mualem; bantu suarakan potensi ekonomi wisata di Aceh agar Aceh tidak melulu dikira daerah premitif dan masih perang.

Cukuplah kita jadi penonton pembangunan dari balik berita Jakarta. Kini saatnya Aceh jadi panggung bukan pelengkap lakon.

Dan untuk Mualem, selamat atas durian runtuhnya. Tapi ingat, durian itu berduri. Salah potong, bisa kena tangan sendiri.

*) Penulis adalah Mahasiswa Hukum asal Aceh. 

KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved