Kupi Senye
Aset Terbengkalai Ditengah Potensi Kampung Keramat Mupakat
IPAL dermaga dan gedung PON, misalnya, masih menyisakan tanda tanya besar untuk siapa dan untuk apa keberadaannya.
Oleh: Iman Ahmadi SPd I *)
Ditengah semangat pembangunan berbasis masyarakat, Kampung Keramat Mupakat justru dihadapkan pada sebuah ironi, sejumlah aset pemerintah yang berdiri di wilayah kampung belum dimanfaatkan secara optimal.
IPAL dermaga dan gedung PON, misalnya, masih menyisakan tanda tanya besar untuk siapa dan untuk apa keberadaannya jika tidak memberi dampak langsung bagi warga?
Secara fisik, aset tersebut berdiri. Namun secara fungsi, belum sepenuhnya hidup.
Padahal, masyarakat sekitar memiliki kebutuhan nyata ruang usaha, pusat kegiatan ekonomi, hingga pengembangan wisata desa.
Pemerintah desa, bersama masyarakat, melihat peluang yang selama ini belum disentuh.
IPAL dermaga dapat diarahkan menjadi kawasan pendukung aktivitas ekonomi berbasis perairan dan wisata lokal.
Sementara gedung PON memiliki potensi sebagai pusat kegiatan UMKM, pelatihan, hingga ruang promosi produk desa.
Lebih jauh lagi, geliat pemberdayaan sudah mulai tampak melalui inisiatif Apotik Hidup TP PKK Kampung.
Program ini tidak hanya sekadar penghijauan, tetapi juga mengarah pada konsep wisata hijau berbasis tanaman obat dan sayur mayur segar.
Jika dikelola terintegrasi, kawasan ini dapat menjadi destinasi edukasi sekaligus sumber ekonomi baru bagi masyarakat.
Namun semua potensi itu akan sulit berkembang tanpa kewenangan yang jelas.
Desa tidak bisa bergerak maksimal jika aset yang ada masih terikat secara administratif di tingkat pemerintah yang lebih tinggi.
Di sinilah letak persoalan mendasar: aset ada, kebutuhan ada, kemampuan ada tetapi kewenangan tidak diberikan.
Penyerahan pengelolaan aset kepada desa, baik melalui skema hibah, kerja sama, maupun pinjam pakai, menjadi langkah yang layak dipertimbangkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Reje-Kampung-Keramat-Mupakat-2504_.jpg)