Minggu, 7 Juni 2026

Kupi Senye

Bercermin Dari Konflik Timur Tengah

Saat ini langit timur tengah sedang bergemuruh rudal-rudal balistik yang mewarnai cakrawala malam, dunia dibuat resah dan gelisah.

Tayang:
Editor: Sri Widya Rahma
Dokumen Pribadi/Iman Ahmadi
KUPI SENYE - Iman Ahmadi adalah Alumni Ikatan Mahasiswa Gayo (Imaga) Medan Sumatera Utara, Pemerhati Sosial Adat Budaya Aceh Tengah. 

Oleh : Iman Ahmadi SPd *)

Saat ini langit timur tengah sedang bergemuruh rudal-rudal balistik yang mewarnai cakrawala malam, dunia dibuat resah dan gelisah.

Konflik bersenjata yang berkepanjangan selama bertahun-tahun telah berlangsung berupa perang bayangan, operasi siber, dan sabotase intelijen, kini meledak secara terbuka antara dua kekuatan regional yaitu Negara Iran dan Israel.

Konflik ini bukan hanya menyangkut dua negara, melainkan menyeret keterlibatan kekuatan global negara lain, memicu destabilisasi kawasan, dan memamerkan penggunaan sistem senjata berteknologi tinggi yang bisa mengubah wajah peperangan modern.

Di tengah konflik ini, Indonesia saat ini dihadapkan pada ujian moral arah politik luar negeri.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, simpati terhadap Palestina dan penolakan atas agresi Israel telah menjadi bagian dari sikap politik luar negeri yang konsisten selama ini.

Ketika konfrontasi terjadi secara terbuka antara Iran dan Israel, posisi Indonesia menjadi lebih kompleks.

Di satu sisi, Indonesia ingin tetap menjaga citra sebagai bangsa penjaga perdamaian dunia. Di sisi lain, realitas kondisi domestik dan ketidak jelasan arah politik luar negeri justru membuat suara Indonesia terdengar semakin sayup-sayup di forum dunia internasional.

Kenyataannya, dunia internasional saat ini semakin sulit menaruh harapan kepada Indonesia untuk berperan signifikan dalam isu keamanan global.

Bukan karena Indonesia kekurangan sejarah diplomasi, tetapi karena konsistensi antara prinsip dan tindakan yang kini mulai dipertanyakan.

Diplomasi kita kerap terasa normatif, datar, dan kehilangan daya dorong. Pernyataan resmi sebatas mengimbau semua pihak untuk menahan diri, namun jarang diikuti dengan langkah nyata untuk memfasilitasi dialog misalnya membangun kepercayaan, atau menawarkan beberapa solusi.

Bahkan, Indonesia seperti kehilangan kompas dalam dinamika global yang menuntut ketegasan dan kejelasan posisi di tengah dinamika global yang semakin membara.

Pada sisi lainnya, kondisi dalam negeri pun belum cukup kuat untuk menopang peran strategis itu.

Persoalan korupsi, ketimpangan sosial, birokrasi yang lamban, dan elite politik yang lebih sibuk dengan manuver kekuasaan daripada visi global, membuat posisi Indonesia tampak nyata semakin rapuh.

Mana mungkin kita bicara soal perdamaian dunia, jika suasana bangsa kita sendiri penuh dengan kekacauan dan kegaduhan mana mungkin kita menyerukan hukum internasional, jika di dalam negeri sendiri penegakan hukum masih tebang pilih.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved