Senin, 20 April 2026

Kupi Senye

Ramadan: Momentum Menata Hati, Menyatukan Solidaritas

Lapar dan dahaga yang dirasakan sepanjang hari bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk melatih kesabaran, kejujuran dan keikhlasan.

Editor: Sri Widya Rahma
TribunGayo.com
KUPI SENYE - Ahmad Syafiq Sidqi, mahasiswa prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2026. 

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sarana untuk menumbuhkan takwa.

Takwa itu sendiri berwujud dalam kejujuran, kesabaran dan kepedulian sosial

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ، فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

Apabila datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah setan-setan.” (HR Bukhari No 3277, Muslim No 1079)

Hadis ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah musim kebaikan, saat manusia diberi kesempatan besar untuk mendekat kepada Allah tanpa banyak gangguan.

Momentum ini seharusnya dimanfaatkan untuk memperbaiki diri sekaligus memperkuat ikatan sosial.

Puasa melatih empati. Lapar yang kita rasakan sepanjang hari mengingatkan bahwa ada saudara-saudara yang setiap hari bergulat dengan kekurangan.

Dari sinilah lahir solidaritas: berbagi takjil, zakat fitrah, hingga gerakan sosial yang menguatkan ikatan antarwarga.

Ramadan menegaskan bahwa ibadah tidak berhenti di sajadah, tetapi harus menjelma menjadi kepedulian nyata.

Di tengah krisis sosial dan bencana yang kerap melanda negeri, Ramadan seharusnya menjadi energi kolektif untuk menumbuhkan rasa kebersamaan.

Anak rantau yang jauh dari kampung halaman, misalnya, menemukan makna baru dalam kebersamaan sederhana: berbuka bersama,
saling menguatkan dan mengingatkan bahwa solidaritas adalah bagian dari iman.

Ramadan juga menantang kita untuk tidak berhenti pada ritual. Ia mengajak kita menata ulang arah hidup.

Hati yang bersih akan melahirkan tindakan yang jujur, sementara solidaritas yang kuat akan melahirkan masyarakat yang tangguh.

Sumber: TribunGayo
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved