Kupi Senye
Ramadan: Momentum Menata Hati, Menyatukan Solidaritas
Lapar dan dahaga yang dirasakan sepanjang hari bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk melatih kesabaran, kejujuran dan keikhlasan.
Dalam konteks bangsa yang kerap dilanda ketidakadilan, Ramadan seharusnya menjadi energi kolektif untuk membangun masyarakat
yang lebih adil dan peduli.
Pada akhirnya, Ramadan adalah undangan untuk kembali ke nilai dasar: kejujuran, empati dan kebersamaan.
Momentum ini seharusnya tidak berhenti di bulan suci, tetapi menjadi fondasi bagi kehidupan sehari-hari.
Menata hati dan menyatukan solidaritas adalah jalan menuju masyarakat yang lebih damai, adil, dan penuh kasih.
Solidaritas adalah salah satu nilai inti dalam ajaran Islam. Ia bukan sekadar hubungan sosial, tetapi juga bagian dari iman dan ibadah.
Islam menekankan bahwa umat harus saling mendukung, menolong dan menjaga satu sama lain dalam bingkai ukhuwah (persaudaraan).
Solidaritas dalam Islam bukan hanya konsep, melainkan praktik nyata yang membentuk masyarakat penuh kasih, adil dan harmonis.
*) Penulis adalah Mahasiswa prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
KUPI SENYE adalah rubrik opini pembaca TribunGayo.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gayo/foto/bank/originals/Syafiq-Sidqi-mahasiswa-prodi-Komunikasi-dan-Penyiaran-Islam-UIN-Sunan-Kalijaga-Yogyakarta.jpg)